Team Itu Bernama Keluarga

“Mella dan faizal, jangan ge er ketika sekarang kalian merasa kehidupannya di uji, itu ujian untukmu agar naik kelas, sesungguhnya itu ujian untuk anak-anakmu, mereka akan belajar banyak dari setiap prosesnya, mereka yang akan naik kelas, tugas kalian sebagai orangtua adalah mendampingi anak-anak, lihat nanti setelah ujian mulai lewat, apakah anak-anak akan semakin baik akhlaknya ? Semakin kuat aqidahnya ? Semakin dewasa ? Semakin kuat hatinya ? Jika jawabannya iya, berarti kalian berhasil, jadi jangan ge er kalau semua ini akan membuat kalian naik kelas, anak-anakmu yang akan naik kelas”. *jlebb 

Begitulah pesan mas dodik dan mbak septi ketika kami meminta beliau untuk memberikan saran juga memandu kami dalam mengarungi kehidupan ini, kami berkeluh kesah, menangis dan tertawa ketika bercerita tentang proses perjalanan kami saat ini. Dan ketika mas dodik menyampaikan pernyataan di atas kami seperti melihat dunia lebih luas, selama ini aku dan mas faizal hanya fokus dengan kenyataan bahwa ujian ini sedang menghampiri kami berdua dan kami sibuk menyelesaikannya tanpa melibatkan anak-anak, padahal ternyata proses ini sangat “kaya” jika seluruh anggota keluarga bisa terlibat. 

Kunci utama dari semua itu adalah komunikasi, jika semua komunikasi lancar maka aura positif pasti memancar, persoalannya bukan seberapa berat masalahnya tetapi bagaimana kita memaknai setiap kejadian, mengambil istilah dari mas dodik mariyanto, kita seharusnya bisa menjadi “Home Team” yang baik. Saling mendukung, mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki dengan didasari oleh cinta. Lalu apakah dengan begitu semua masalah langsung selesai ? Oh belum tentuu… Masalah yang dihadapi mungkin belum selesai tetapi memaknai setiap proses dengan rasa syukur pasti akan membuat perjalanan menyelesaikan setiap masalah terasa lebih mudah.

Aku mulai mengkomunikasikan masalah-masalah yang dihadapi keluarga kecil kami ini kepada anak-anak sesuai porsi yang bisa dimengerti oleh anak-anak, hasilnya ? Si sulung lebih”ngemong” ke adiknya, adiknya juga mulai pengertian untuk tidak marah jika keinginannya belum terpenuhi, ini baru awal, kami yakin kedepannya aku dan faizal akan lebih mudah berproses karena kami sudah memiliki home team yang luar biasa, yang siap saling mensupport. Terima kasih mas dodik mariyanto dan mbak septi peni wulandani untuk coaching yang penuh cinta..Duo aliiii yuk kita kemon bergandengan tangan.

Comments

  1. Seneng bgt bacanya mba mela, kami masih hrs bnyk bljr

  2. Curhat yg membawa inspirasi bagi keluarga indonesia

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge