Ali Tidak Pintar Kalau Tidak Sekolah

Pagi ini acara sarapan di meja makan lebih seru karena tiba-tiba sepupunya ali datang untuk bermain bersama, sang sepupu laporan kalau bulan juli nanti ia akan mulai masuk sekolah di SD dekat rumah yang dulu menjadi lokasi Husayn jualan, lokasinya sangat dekat, bisa dijangkau dengan jalan kaki, bahkan setiap waktu olahraga tiba, anak-anak sekolah tersebut selalu lewat depan rumah kami untuk jalan pagi. ketika sepupunya laporan kalau ia mau sekolah, spontan aku bertanya ke ali “ali mau daftar sekolah juga ?” ali pun senyum-senyum dan bilang “ngga, ngga, ngga, eeehh mau, mau, mau” nah mulai deh kami membahas hak dan kewajiban jika ali sekolah nanti.

Obrolan diawali dengan “jika ali sekolah maka ali harus berhenti ikut klub oase karena klub oase jadwalnya di rabu pagi dan itu bentrok sama sekolahnya ali.” lalu ali menjawab “hah ? oh nonononono ali harus tetep klub oase”. lalu lanjut lagi “jika ali sekolah, kita tidak bisa lagi field trip dan backpackeran sekeluarga kapan aja, jadi mesti nunggu jadwal libur sekolah ali dulu”. ali menjawab lagi “hah ? oh nonono mamah ali mau kita bisa field trip kapan aja”. lalu aku tersenyum dan belum menanggapinya, aku lanjutkan konsekuensi selanjutnya ” jika ali sekolah, maka ali harus mematuhi semua peraturan sekolah, pelajaran, seragam, dan aturan lainnya “. dan ali senyum-senyum sambil menggeleng kepalanya “ali ngga mau sekolah mama”.

Saat aku menawarkan (lagi) pagi ini opsi berpindah model pendidikan ke sekolah formal sebenarnya aku serius dan akan mengabulkan permintaan ali jika ali mau serius sekolah tetapi nyatanya ali lebih nyaman melanjutkan  untuk menjadi anak yang tidak bersekolah. lalu kemudian aku bertanya sebenarnya tujuan ali sekolah apa ? “biar ali pinter kayak tomo (sepupunya) mah, kata orang-orang sekolah akan membuat kita pinter, nanti ali tidak pintar kalo tidak sekolah kata orang-orang”. aku tidak bertanya lebih lanjut kepadanya siapa yang ali maksud dengan “orang-orang” yang ternyata telah mengusik kepercayaan dirinya. hehehe yang dianggap “pintar” oleh “orang-orang” tersebut mungkin kepintaran secara kurikulum nasional, maka akupun dengan spontan bertanya ke ali ” ali bisa menghitung perkalian ?”, ” bisa” jawab ali, lalu aku bertanya kepada sepupunya (yang usianya sama-sama 6 tahunan hanya beda 19 hari lahirnya dengan ali. “tomo bisa menghitung perkalian ?”, “bisa” jawab tomo.

Lalu aku bilang ke ali “ali boleh tanya soal perkalian ke tomo”, dan ali bertanya ke sepupunya “tomo, 20×2 berapa ?”, spontan aku protes kenapa perkaliannya puluhan, ali bilang “kan boleh tanya apa aja tentang perkalian”. lalu sepupunya menjawab “wah aku belum hafal li, bunda belum ajarin aku,belum sampai perkalian puluh-puluh”. lalu ali menjawab “haaa itu kan gampang mo, 20×2 itu ya berarti 20nya ada 2 jadi ya 40 ngapain dihafalin.” lalu sepupunya bilang “ali nggak boleh sombong loh”, lalu ali menjawab “aku bukan sombong mo, tapi aku cuma kasih tau kamu, maafin aku ya mo.” dan akupun tersenyum sambil berbisik di telinga ali “mama pernah ajarin ali perkalian ? | “nggak pernah ma, ali diajarin abang waktu main math dice.” | “ali hafal perkalian ?” | “ali nggak hafal tapi ali bisa tau jawaban perkalian kalau ali hitung dulu, kalau sering-sering baru nanti juga lama-lama hafal” | “berarti sebenarnya selama ini ali belajar hal yang sama dengan tomo dong, hanya bedanya tomo belajar di bimbel (persiapan masuk SD *hiks) dan ali belajar dimana saja sama abang, mama, papa, teman-teman oase dan yang lainnya. ” lalu senyumnya melebar memperlihatkan gigi ompongnya dan tiba-tiba kami bernyanyi bersama :

Di mana sajaaaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar aaaaar, dimana sajaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar, bersama siapa saja aku belajaaaaaaaaarrrrrrrrr

Jika boleh aku berpendapat, ternyata logika ali lebih jalan, ali tau apa itu perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian dan lainnya, dan kami tidak pernah mengajarinya dengan target untuk urusan ini, ali “hanya” bermain game dengan mama, papa dan kakaknya, saat ini aku merasa ali tidak penting menghafal hasil perkalian tetapi yang terpenting ali mengerti konsep perkalian, dan ilmu itu bisa bermanfaat untuk hidupnya. jadi kita lanjut cari ilmu di cakrawala luasnya nih ya li ?… hayuukkk.. kita bersama bergandengan tangan mencapai takdir terbaikmu…

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge