Mille Crepe Cinta ala Chef Mama

Udah lamaaa banget pengen bikin kue ini, tapi kayaknya agak ribet pas liat resepnya, mesti ada teknik ice bath segala, tapiii setelah dipaksain buat bikin plus ditambah bumbu cinta ala mama, ternyata sama sekali tidak repot, siapkan malam hari dan selesaikan kuenya di esok pagi harinya, dan taraaaaa jadi deh ngerasain lembutnya si mille crepes ini.. Hmmm creamnya membelai lidah dan yang terpenting 3 customer terbaikku ketagihan.

Dari semua resep yang aku lihat di internet, aku tertarik banget dengan resep dari blognya NCC Rainbow Week, ternyata kuenya buatan mbak Hesty, hmm udah pasti uenaaak deh.. Nah yuukk bikin Mille Crepes atau Thousand Layer Cake atau kue tumpukan crepe yang membelai lidah ini, ini dia resepnyaa :

Mille Crepe
10 potong
Untuk adonan crepe (adaptasi dari Joy of Cooking):
Bahan:
6 sdm mentega (85 gr)
3 cup susu cair (750 ml)
6 telur utuh
1 1/2 cups terigu serbaguna (210 gr)
7 sdm gula pasir sugar (93 gr)
Sejumput garam
Minyak sayur

Persiapan untuk adonan crepe (sehari sebelumnya):
1. Cairkan mentega di wajan kecil sampai berwarna keemasan. Sisihkan.
2. Di panci kecil lain, panaskan susu hingga panas, dinginkan sekitar 10 menit.
3. Dengan mixer kec sedang, kocok telur, tepung, gula dan garam.
4. Perlahan tambahan susu panas dan mentega.
5. Saring dan tuang ke dalam wadah, tutup dan simpan di lemari pendingin semalaman.
Cara Membuat Crepe:
1. Keluarkan adonan dari lemari pendingin, biarkan dalam suhu ruang.
–> saya bagi adonan menjadi 6 bagian, masing2 diberi pasta Golden Brown 3-5 tetes.
2. Panaskan wajan anti lengket diameter 20 cm dengan suhu sedang. Usap wajan dengan minyak sayur.
3. Tuang 3 sdm adonan dan goyangkan wajan hingga adonan rata menutupi wajan.
4. Masak hingga crepe mulai kecoklatan di dasarmya, sekitar 1 menit, lalu balik dengan hati-hati.
5. Masak tidak lebih dari 5 detik.
6. Balikkan crepe di loyang tipis berlapis kertas roti/parchment.
7. Ulangi proses tersebut sampai adonan crepe habis

vanilla pastry cream
(adaptasi dari ”Desserts,” by Pierre Herme and Dorie Greenspan):
Bahan 1:
2 cup susu cair (500 ml)
1 sdm vanilla extrak
6 kuning telur
1/2 cup gula pasir (113 gr)
1/3 cup tepung maizena, ayak (47 gr)
3 1/2 sdm mentega (50 gr)
Persiapan untuk vanilla pastry cream (sehari sebelumnya):
1. Didihkan susu. Mastikan api, masukkan vanilla extrak, aduk, lalu diamkan selama 10 menit.
2. Penuhi baskom besar dengan es batu dan siapkan baskom yang lebih kecil di atas baskom besar tadi, untuk memuat cream (ice bath).
3. Dalam panci sedang berdasar tebal, kocok dengan whisk kuning telur, gula pasir dan tepung maizena.
4. Perlahan dan bertahap tuang susu panas sambil diaduk dengan whisk, tempatkan panci di atas panas kompor dan aduk hingga mendidih (meletup-letup), teruskan aduk hingga 1-2 menit.
5. Saring cream dan tempatkan di baskom kecil untuk ice bath.
6. Tempatkan baskom berisi cream dalam ice bath dan aduk hingga cream mencapai suhu 140 ‘C.
7. Masukkan mentega, aduk rata. Ketika cream udah dingin seluruhnya, tempatkan di wadah bertutup dan dinginkan.
Bahan 2:
2 cup krim kental –> saya pakai 1 cup whipped cream Rich (250 ml)
1 sdm gula bubuk –> tidak pakai
3 sdm Kirsch –> tidak pakai
Gula bubuk (jika suka) –> tidak pakai
Menyelesaikan pastry cream:
1. Kocok hingga mengembang heavy cream dengan gula dan Kirsch. Tidak perlu sampai kaku.
2. Aduk bersama pastry cream.
Penyelesaian:
1. Letakkan 1 lembar di alas kue.
2. Lapisi tipis pastry cream dengan menggunakan spatula.
3. Lapisi dengan crepe selanjutnya dan ulangi hingga crepe habis.
4. Dinginkan minimal 2 jam.
5. Tempatkan di suhu ruang 30 menit sebelum disajikan.
6. Jika mempunyai blow torch, untuk creme brulee, taburkan 2 sdm gula di atas crepe paling atas dan panaskan gula dengan blow torch hingga ber-karamel atau, taburkan saja gula bubuk di atas kue. Potong-potong seperti cake.

Kelihatan rumit ya cara membuatnya ? Sekaraang siapkan bahan dan mulai kerjain deh membuat kuenya, asliii tidak seribet yang dibayangkan kook.. Oiya terima kasih mbak hesty untuk resepnya..

IMG_3909.JPG

Zero Waste Itu Candu

“Bu, repot ya bawa kotak banyak ? Ibu melakukan ini untuk apa ?” | “untuk bumi ALLAH” jawabku singkat, lalu beliau bilang lagi, “apa nanti difoto buat di upload ?” | “nggak, karena dulu udah pernah”. Dan beliaupun tersenyum maniisss sekali, isyarat matanya seakan bertanya “kita beneran melakukan ini buat anak cucu cicit dan karena ALLAH SWT kan ?”.

Beberapa bulan ini memang sepertinya SANG MAHA memang sedang menuntun keluarga kami untuk lebih sadar kalau bumiNYA ini dititipkan kepada kami dan kami harus menjaganya. Alhamdulillaah kalau dijalani perlahan tanpa beban insya allah bisa konsisten.

Maaf ya sayangku akhirnya ternyata aku harus kembali memposting gambar kotak-kotak belanja kia pagi ini, bukan untuk mengintimidasi hanya ingin memberitahu kepada dunia bahwa “Belanja TANPA SAMPAH itu CANDU” nggak percaya ? Cobain deh yukk kita bareng-bareng menikmati Kecanduan ini.

Bergandengan Tangan Menggali Bakat Minat Anak

Beberapa hari ini aku sangat serius membaca beberapa buku tentang pengembangan bakat minat anak, salah satunya adalah buku Ayah Edy yang berjudul “memetakan potensi unggul anak”, bukunya bagus dan membuka wawasan terutama bagi para orangtua yang bingung bagaimana mengenali bakat minat anak yang nantinya dapat menjadi sarana sukses anak secara finansial dan berbagi manfaat bagi orang lain.

Pagi ini tiba-tiba Husaynku datang dan bilang bahwa aku terlalu serius membaca bukunya, sehingga ia sangat ingin tau buku apa yang sedang aku baca, aku menjelaskan kepadanya bahwa aku sedang belajar untuk dapat menemaninya menuju tujuan hidupnya kelak, dan aku sangat butuh kerja sama darinya agar kami dapat berjalan bersama, Husayn lalu memelukku dan mengucapkan terima kasih, dan ia berjanji akan bekerjasama untuk hal itu.

Menemani perjalanan kesuksesan anak-anak adalah tugas penting semua orangtua, kita seperti sedang berjalan bersama di dalam lorong dengan banyak cabang, terkadang anak ingin belok ke kiri tetapi orangtua maunya ke kanan, atau sebaliknya. maka didalam perjalanan ini diskusi menjadi hal yang sangat penting dilakukan, kita harus memiliki telinga yang lebih lebar dibanding mulut yang terus berbicara, sehingga kita bisa menjadi partner yang dipercaya oleh anak-anak.

Kebanyakan dari orangtua biasanya menggunakan otoritas besarnya untuk membuat anak menjadi sukses dalam versinya, tanpa banyak bertanya apa sesungguhnya hal bahagia yang dapat membawanya menuju kesuksesan lahir bathin. aku punya sedikit cerita tentang pentingnya bakat minat anak yang akan membimbing mereka dalam kesuksesan, berikut sedikit ceritanya :

aku memiliki sepupu, vicky namanya (nama sebenarnya) hehehe, ketika akan lulus SMP vicky bilang sangat ingin masuk sekolah tata boga karena ia sangat suka memasak, membuat kue dan semua yang berhubungan dengan kuliner, tadinya papanya tidak mendukung karena vicky anak laki-laki yang diharapkan punya profesi “keren” kelak, tapi ibunya (tante aku) mendukung vicky dan akhirnya memasukkannya ke sekolah tata boga. ketika hal ini diceritakan ke keluarga besar kami, banyak keluarga besar yang menyayangkan karena vicky mengambil jurusan sekolah yang tidak keren, hanya aku yang bilang bahwa vicky anak hebat, yang kelak akan berhasil dibidangnya.

tanteku  semakin optimis setelah aku sampaikan bahwa vicky tidak harus menjadi chef, vicky bisa jadi pengusaha restoran atau pengusaha catering bahkan pemilik hotel nantinya, karena vicky melakukan pekerjaannya dengan cinta.

kemarin ketika arisan keluarga, tanteku menunjukkan foto vicky yang bangga memakai baju prakteknya lengkap dengan celemek, vicky juga cerita banyak tentang tekni memasak dan teknik lain dalam dunia kuliner yang ia pelajari, bahkan vicky sekarang sering menjadi pemimpin di kelompoknya, matanya berbinar dan bibirnya penuh senyum, aku melihat binar kesuksesan kelak di mata itu, alhamdulillaah sekarang vicky setara kelas 1 SMA di sekolah tata boga, vicky masih terus berjalan dan beruntungnya vicky ada tangan orangtuanya yang menuntunnya dengan penuh kasih.

Sekarang ini jarang sekali anak-anak yang tau tujuan hidupnya, kebanyakan anak hanya mengikuti jalur yang sudah ada, mengekor kesuksesan teman-temannya, atau pasrah mengikuti obsesi orangtuanya sehingga mereka baru sadar ketika sudah “tersesat” situasi yang jauh berjalan sehingga merasa susah untuk keluar dari situasi tersebut. semoga kita mampu membuka telinga lebih lebar untuk banyak mendengarkan anak-anak sehingga bisa berjalan beriringan menuju kesuksesan mereka kelak. mama masih banyak belajar, kita sama-sama belajar ya nak…

Jumlah Bukan Ukuran Kebenaran

“Mamaaa… siapa tuh nama anak yang ngumpetin sandal di film hafalan shalat delisa ?, siapa ya hmm duh Husayn lupa nih.” Beberapa menit kemudian “yhaaa husayn inget, umar namanya umar”. Tak lama kemudian aku dan ali menjawab hampir bersamaan “umam bang bukan umar”, lalu ali juga menimpali “iya baang umam namanya, umam”. Lalu papa Faizal ikutan nyambung, “mama dan ali bilang namanya umam, siapa yang terbanyak biasanya yang benar”, tetapi kemudian papa faizal meralatnya “eh yang paling banyak belum tentu yang paling benar kok bang, kita juga harus mengeceknya, mempelajarinya agar benar-benar terbukti yang mana yang benar”. Dan obrolanpun berganti topik menjadi pembahasan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, untuk terus belajar dan kritis dalam setiap situasi.

Menurut kami isu mayoritas dan minoritas menjadi sangat penting untuk dibahas, selama ini sepertinya kita digiring kepada opini bahwa yang mayoritas adalah yang paling benar, karena didukung oleh banyak orang, sehingga minoritas dianggap sebagai kelompok “pemberontak” yang tak patuh kepada suara terbanyak. Aku menyadari bahwa memang benar suara terbanyak kadang dianggap pemenang tetapi sesungguhnya tak selamanya hukum itu berlaku.

Bersikap kritis adalah salahsatu sikap yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, kami menyampaikan kepada Duo Ali bahwa menjadi berbeda bukanlah aib, menjadi berbeda dengan ilmu adalah sikap ksatria, dan menghargai setiap pilihan orang lain adalah wajib. Kita harus memperjuangkan kebenaran walau jumlah kita hanya sedikit bahkan sendiri, dan satu-satunya “teman” dalam mencari kebenaran adalah Belajar, ya BELAJAR…

Di akhir obrolan panjang lebar tentang memperjuangkan kebenaran di tengah keluarga kecil kami ini, Ali berbisik di telingaku “mah, jadi sampai kapan kita harus belajar ?”, sambil mencium bibir mungilnya akupun tersenyum menjawab “sampai mati nak, sampai akhir hayat, sampai kita menutup mata untuk selamanya.” Sambil memperlihatkan gigi ompongnya Ali kecilku menimpali “Ali sayang mama sampai selamanya, selama-lamanya” *nyessss hatiku kok jadi adem banget ya.

Selamat belajar dalam kebahagiaan Ya nak, Iqro.. iqro.. Iqro.. *shalawat

IMG_2534-0.JPG

Kurangi Sampah, Selamatkan Bumi

Cerita keluarga kecil kami pagi ini dimulai dengan pergi ke pasar bersama. setelah shalat subuh aku, papa faizal, ali dan husayn bersiap untuk jalan pagi menuju pasar tradisional. Di saat keluarga lain sibuk dengan seragam kerja dan seragam sekolah, kami berempat (yang belum mandi ini) pun sibuukk buat siap-siap ke pasar.

IMG_2549.JPG
Biasanya kalau ke pasar aku hanya membawa tas besar untuk dimasukkan barang belanjaan, dan setelah pulang dari pasar ketika aku membersihkan sayuran, daging, ikan dll selalu terselip rasa bersalah, karena sampah plastik sisa bungkusan belanjaan banyak sekali dan tentu saja tidak bisa dipilah dan disimpan karena biasanya plastik-plastik tersebut berbau tak sedap.

Beberapa kali aku ngobrol dengan sahabatku shanty (salahsatu praktisi homeschool juga) bagaimana cara memilah sampah, pasti jawaban pertamanya adalah “lebih baik kurangi sampahnya, tak perlu susah dulu memikirkan cara memilahnya, bawalah kotak- kotak kecil ke pasar untuk wadah belanjaan”. Yaaaa dulu aku pikir repot kalau harus begitu karena akan banyak sekali kotak yang diperlukan, tetapi setelah sedihku berlarut – larut tak berujung melihat plastik bau bekas ikan *lebaay, akupun akhirnya mencoba untuk membawa wadah- wadah belanjaan ke pasar, dan hari ini sepulangnya dari pasar senyumku lebaaaaarrr sekali karena benar- benar tidak ada sampah sisa bungkusan belanjaanku.

IMG_2547.JPG
Terima kasih shanty untuk sarannya, yuk teman- teman kita kurangi sampah di setiap kegiatan yang kita lakukan pasti bumi pun tersenyum lebar karena tak harus menanggung banyak sampah yang bisa merusak lingkungan.

IMG_2552.JPG

Resep Donat Kampung Empuk ala Duo Ali

Cemal-cemil adalah salahsatu kebiasaan Husayn dan Ali di rumah, termasuk kesukaan papanya juga. walaupun di depan rumah kami ada warung yang cukup lengkap, tetapi anak-anak jarang sekali meminta uang untuk jajan, aku dan mas faizal tidak pernah melarang anak-anak untuk jajan, kami hanya memberi tahu tentang makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi, dan anak-anakpun mengerti dengan sendiri.

Salahsatu cemilan yang anak-anak suka adalah donat, baik donat kentang, donat ala jco atau donat kampung sekalipun, dan keterampilan penting untuk duo ali adalah membuat cemilannya sendiri termasuk membuat donat, daaan inilah resep donat kampung empuuukk ala duo ali :

Resep Donat Kampung ala Duo Ali

500 gram tepung terigu protein tinggi atau protein sedang (tergantung persediaan)
100 gram gula pasir
1 sachet / 11gr ragi instant
1 butir telur
=/- 200gr air matang/air es
sedikit garam
50gr/1 SDM margarine

cara membuat :
masukkan terigu, gula dan ragi instant, diaduk hingga rata, lalu masukkan telur utuh dan air, uleni hingga menggumpal, lalu terakhir masukkan garam dan margarie, uleni hingga kalis elastis.
setelah kalis elastis, buat bulatan kecil (kalau aku sekitar 25-30gram), diamkan 10 menit, lalu bolongi tengahnya (ini pekerjaan favorit duo ali), setelah selesai di lubangi lalu diamkan hingga adonan menggendut.
donat kampung siap digoreng dengan api kecil.

Kami biasanya menggoreng semua adonan donat, lalu kami simpan di wadah kedap udara, dan kami simpan di freezer, kalau mau dimakan tinggal ambil secukupnya kemudian dihangatkan lg di penggorengan, atau tak perlu digoreng lagi, hanya di thawing aja si donat kampung sudah kembali empukk.. hmm nyam nyam nyaam.. yukk kita bikin cemilan sendiri, pasti lebih berkah karena terdapat banyak cinta di dalamnya..

salam donat ^_^IMG_2519.JPG

Salahmu itu Salahku nak

Plakk.. Tiba- tiba tangan ali mendarat ke tubuh abangnya, si abangpun cemberut kemudian berkaca-kaca, dengan refleks aku langsung teriak ke arah ali memintanya untuk berhenti dan meminta maaf ke abangnya, bukannya minta maaf ali malah cemberut dan diam tak bergeming.

Kejadian tersebut sudah terjadi beberapa kali, aku tak berhasil membuat ali mengerti untuk tidak memukul, padahal aku dan mas faizal tidak pernah mencontohkan memukul kepada anak – anak, tetapi sepertinya akhir-akhir ini ali mudah sekali menggunakan tangan atau kakinya untuk “menunjukkan kekuatan” kepada abangnya. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas kejadian ini, kesimpulan akhirku adalah kembali kepadaku, akulah yg salah karena tidak bisa mengkomunikasikan hal tidak baik ini kepada ali, akulah yang tak mampu menyentuh hatinya untuk bersabar, akulah yang tak mampu membuat ali mengerti bahwa perbuatannya menyakiti orang lain.

Sambil menghela nafas berusaha bersabar aku kemudian mengangkat tubuh mungil jagoan kecilku itu, aku letakkan ia di pangkuanku, kemudian dengan suara sangat pelan aku bilang kepadanya, “ali, maafkan mama ya, mama nggak bisa membuat ali mengerti bahwa abang sedih kalau ali memukul abang, bahwa memukul adalah perbuatan yang tidak terpuji, mama izin ya untuk beberapa waktu ke depan belajar lagi, baca buku lagi, atau ikut kelas-kelas cara mendidik anak yang baik, dan mama udah siap kalau harus dihukum”.

Keadaan yang tadinya hening pun kemudian berganti dengan isak tangis ali, ali memelukku erat, dan langsung meminta maaf, ia meyakinkan aku bahwa bukan aku yang salah atas perbuatannya, dan ia berjanji untuk tidak memukul lagi. Kemudian kami pun ngobrol panjang lebar tentang kejadian hari itu. Sampai kemudian ali berlari ke abangnya untuk meminta maaf sambil memeluk abangnya. Ah leganyaa..

Senyumku mengembang, aku belajar banyak hari ini, aku sadar bahwa jika anak- anak saat ini melakukan perbuatan tidak terpuji, itu adalah kesalahanku sebagai ibu yang tak bisa mengkomunikasikannya kepada mereka, aku yakin di dalam suatu hubungan jika kita dapat berkomunikasi dengan baik maka tak akan ada kejadian tidak menyenangkan. Mama masih harus belajar ya nak. Untuk selalu menemani kalian dalam kebaikan. Kebenaran dan kebahagiaan. Kita sama- sama belajar ya boys..

Tak lama kemudian “Plakkk..”, aku keluar kamar, dan kulihat dua belahan jiwaku itu menoleh ke arahku sambil nyengir menunjukkan gigi ompongnya “ahahaha tuhkan bang, mama pasti nyamperin kalo denger suara pukul-pukul, orang kita lagi pukul ini ya bang (nunjuk mainan) , tenang maah ali sama abang udah ngerti kok kalo pukul itu nggak bagus.. Hahahaha” dan akupun berlari menangkap kedua bos kecilku itu sambil mengelitiki keduanya.. Aku belajar, kalian belajar, kita belajar bersama ya nak..

IMG_2140.JPG

Tetaplah Menjejak Bumi nak…

Tetap menjejak bumi, adalah salahsatu hal yang sering aku bicarakan bersama para sahabatku sesama homeschooler, aku lala dan wiwiet sering sekali membahas tentang pentingnya anak-anak kita untuk tetap “menjejak bumi”, ketika suatu hari nanti anak-anak kita menjadi “seseorang”. maksudnya adalah, anak-anak harus bisa melihat ke bawah, mereka sangat boleh berfikir dan melakukan langkah yang revolusioner tetapi mereka juga harus tetap melihat “ke bawah” untuk menjadi bahan pertimbangan.

Sudah sewajarnya jika setiap keluarga homeschool memiliki jalan yang berbeda-beda walau memiliki tujuan yang sama, untuk keluarga kami, salahsatu bahan belajar anak-anak untuk tetap menjejak bumi adalah mengenal seluruh lapisan masyarakat, keragaman bangsa ini, strata sosial yang berbeda, hingga anak-anak tidak merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar, paling unik dan paling-paling lainnya, anak-anak harus mengerti bahwa “kita” lebih penting dibanding “aku”. dan pucuk dicinta ulampun tiba ketika bude, pakde dan anaknya akan pulang kampung ke purwokerto, husayn tiba-tiba menyatakan niatnya untuk ikut pulang kampung. tanpa ragu-ragu akupun meng iyakan permintaannya, aku dan suami mempercayai keluarga bude nur ini karena mereka sekeluarga telah tinggal dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga kami lebih dari 20 tahun, jadi sudah seperti saudara sendiri.

petualangan husayn

Ketika aku membolehkan husayn (8tahun) untuk ikut, ia pun bersorak dan mulai repot mempersiapkan perlengkapannya, aku ingin perjalanan Husayn berlangsung se-alami mungkin, tak ada keistimewaan karena ia ikut, diawali dengan membeli tiket kereta ekonomi seharga Rp.40.000 seperti yang biasa keluarga bude lakukan. hingga ketika berangkat jam 4 subuh menuju stasiun pun mereka berangkat menggunakan bajaj tidak aku antar, aku ingin husayn merasakan perjalanan keluarga bude yang sesungguhnya, bukan perjalanan yang aku disain khusus untuknya. sebelum berangkat aku hanya berpesan ” Husayn, selalu berdoa dan bershalawat di setiap langkah husayn, dijaga shalatnya, tetap bersama bude, pakde dan kaka lila selama pergi ya,  sampaikan salam mama sambil husayn pijitin mbah (ibunya bude), dengarkan teman-teman husayn waktu mereka bercerita lalu cerita dan berbagi ilmu yang Husayn punya kepada teman-teman disana.” pesan itu aku utarakan sambil kupeluk Husayn tepat dipintu bajaj, dan Husaynpun mengangguk sambil tersenyum.

Jujur saja, sebagai seorang ibu sebenarnya ada rasa khawatir didalam diriku tetapi kepercayaanku kepada keluarga bude dan Husayn dan tentu saja kepercayaanku akan kekuatan doa mengalahkan rasa khawatir ini. selama Husayn pergi kurang lebih seminggu, aku tak banyak menelepon Husayn, aku membawakan Blackberry (BB)  bekas pakaiku kepada Husayn dengan tujuan untuk berkomunikasi dan kamera selama ia disana, jadi aku bisa memantau Husayn dari status-status yang ia buat, dan aku sangat lega membaca ceritanya dan melihat status-status serta foto-foto di bb Husayn. suatu ketika ketika kami bertelepon husayn bilang “mama maaf kalau Husayn jarang bbm dan telepon, itu bukan karena Husayn nggak kangen mama tapi mungkin karena Husayn lagi sibuk disini” :)” oya  husayn menceritakan perjalanannya selama di purwokerto di blog Husayn disini.

homeschooling

Ketika saat pulang tiba, Husayn banyaak sekali bercerita, tentang rumah bude, si mbah, permainan di kampung, hewan-hewan, sungai, bahasa daerah dan tentu saja teman-teman baru. aku terharu mendengar cerita bude tentang Husayn selama disana, semua teman mencintai Husayn, komentar dari tetangga di kampung dan saudara-saudara di kampung juga membuatku ingin meneteskan air mata, bude bercerita bahwa selama disana Husayn jadi anak yang sangat santun, selalu mencium tangan setiap orangtua, tidak jijik dan merasa “orang kota”, nyenyak tidur dan tak rewel makan dengan keadaan yang terbatas di kampung, tidak meninggalkan shalat, teman-teman di kampung bahkan ada yang meneteskan air mata saat Husayn kembali ke jakarta. Husayn selalu mudah berbaur dengan siapa saja, berbagi cerita tentang kota dan ilmunya kepada teman-temannya ( ia melaksanakan pesanku ).

husayn homeschooling

homeschoolers journey

Alam adalah sekolahmu nak, Kehidupan nyata adalah Ujianmu, tetap istiqomah dalam menjalani setiap detik pembelajaran dalam hidupmu ya nak. aku.. mamamu… tetap akan merengkuhmu dalam cinta untuk setiap proses yang kau lalui…

salam cinta…

 

Dunia itu Kejam nak…

Sering sekali aku mendengar kalimat seperti judul di atas. “dunia itu kejam”, “dunia itu keras” , dan kalimat-kalimat yang megandung artian negatif lainnya. hal tersebut juga menjadi isu yang sangat kencang sebagai kritikan kepada para orangtua homeschooler, orangtua dianggap tidak menunjukkan keadaan dunia yang sebenarnya karena cenderung memberikan yang “bahagia-bahagia” saja kepada anak-anak, pergaulan yang “tidak sehat” karena minim bullying.

Sebagai orang yang lebih suka berpikir positif, aku tak setuju dengan generalisasi keadaan seperti kalimat tersebut. memang ada hal-hal kejam dan keras di dunia ini, tetapi tidak dengan begitu dunia menjadi kejam dan keras bukan ?. aku sangat percaya “teko mengeluarkan isi teko”, “cermin memantulkan yang ada dihadapan cermin” maka ketika kita mendengung-dengungkan bahwa dunia itu kejam maka biasanya apapun hal yang datang kepadanya juga (dipandang) kejam. mengapa aku memberikan tanda kurung di kata-kata “dipandang” diatas ? karena sebenarnya mungkin saja keadaan yang datang tak sekejam itu tetapi karena sang otak sudah selalu berpikir tentang kejam maka sang kejamlah yang ada dihadapannya.

homeschooler

Aku dan suamiku tercinta selalu memberikan pandangan yang baik kepada anak-anak, kami yakinkan kepada mereka bahwa dunia itu penuh dengan kelembutan, ALLAAH SWT menciptakan dunia ini begitu indah, kami yakin jika kami baik maka yang datangpun akan baik. ” aku baik, kamu baik”. aku juga tak menutup mata jika di dunia ini juga ada hal-hal keras, kita hanya perlu waspada dengan kekerasan bukan berarti dengan adanya satu kekerasan menutup pikiran baik kita.

Aku tak bisa membayangkan jika semua anak diberikan pandangan bahwa dunia itu keras dan kejam, apa jadinya dunia ini beberapa tahun lagi ? pasti diisi oleh “jagoan-jagoan” yang menganggap dirinya paling benar dan yang lainnya adalah musuh. sebagai pengikut rasulullah Muhammad SAW aku ingin anak-anakku meneladani beliau, manusia yang penuh kelembutan. suatu ketika aku pernah ditanya ” jika rasulullah yang harus diteladani sangat penuh kelembutan, mengapa banyak orang yang mengaku meneladaninya malah bersikap kebalikannya ?”, entahlah nak… pesanku “apapun yang datang kepadamu, keluarkanlah segala kebaikan yang kamu punya nak”.. Aku baik kamu baik maka dunia akan baik ^_^

Homeschooling dan (lagi) Sosialisasi

“mama kita perlu samperin kakek yang terakhir komentar itu, mesti dikasih tau kalo anak homeschool itu sangat banyak teman sebayanya, kasian dia salah paham ” itulah komentar husayn setelah menyaksikan liputan tentang keluarga kami di NET TV. dan lagi-lagi isu ini yang memang paling cocok dicari sisi negatifnya, saya melihat si bapak pakar pendidikan itu juga “males-malesan” membicarakan tentang sisi positif homeschooling “yaa, mereka bisa belajar semaunya, mungkin kalo bisa dibilang sisi positifnya, mungkin itu positif” kata sang pakar. jadiii sodara-sodara ini masih mungkin looh bukan beneran positif hehehe.

Tapiii… sekarang ini aku sudah tidak lagi mempermasalahkan pandangan orang tentang sisi positif dan negatif metode pendidikan yang keluarga kami jalani sekarang ini, aku lebih fokus kepada eksplorasi bakat minat anak-anak dan hal-hal apa saja yang perlu kami fasilitasi dalam kegiatan yang diminati oleh anak-anak. hanya aku tergelitik mengomentari sang pakar karena ajakan Husayn untuk menemui beliau dan memberitahukan tentang sisi sosialisasi dari sang praktisi (yaitu Husayn) kepada kakek pakar. semoga suatu hari nanti kita dipertemukan ya nak..

Jadi apapun positif dan negatifnya hal yang terpenting buatku adalah keluarga kami menikmati proses belajar ini.. yuuk nonton rekaman liputannya yaa.. ini diaa :