Berdagang di Depan Sekolah

Pagi tadi setelah mandi, sarapan, lalu disambung Husayn dengan mewarnai gambar dengan lem glitter. Setelah selesai belajar lalu Husayn Izin kepada saya untuk memulai kegiatan jualannya pagi ini, saya mengizinkan karena smua kewajiban Husayn sudah dipenuhinya, dengan syarat hanya 30 menit Husayn boleh berjualan.

Selang beberapa menit Husayn pergi, kemudian ia balik lagi dan izin kepada saya untuk “mangkal” di sekolah SD negeri dekat rumah kami, saya sangat kaget mendengar ide Husayn tersebut, ingin marah, terharu smua perasaan campur aduk, harus bagaimanakah saya menghadapi keinginan Husayn ini?, ada rasa gengsi, malu, tak tega dan lainnya. Ayah saya termasuk tokoh masyarakat di lingkungan kami, apa kata dunia kalau saya membiarkan cucunya (Husayn) jualan kemudian mangkal di pinggiran jalan.

Setelah berpikir sejenak, saya tersadar, saya tidak boleh membunuh kreatifitasnya, keinginannya, proses belajarnya. Maka saya putuskan untuk memperbolehkannya, dengan beberapa syarat yang saya ajukan. Saya beritahukan tentang etika berjualan, kerapihan dan kesopanan, tempat jualannya dan waktu jualannya yang hanya 30menit saja. Saya biarkan ia ditemani 2 temannya berjualan disana, dengan berat hati saya melepasnya pergi. Smua rasa malu saya lepaskan dari hati, saya yakin pelajaran berharga ini akan menjadi bekal hidupnya kelak.

homeschooling jakarta husayn jualan

menanti pembeli datang

Akhirnya 30menit berlalu dan husayn pulang, terharu saya menyambutnya ia pulang membawa uang 14500 rupiah, tepat 30 menit, ternyata komitmennya akan waktu patut di acungi jempol. Berseri-seri ia pulang dan bilang kalau banyak anak SD yang mau beli esok hari. Dan ia akan jualan lagi. Saya hanya tersenyum menjawabnya. Lalu kemudian papanya mengajak ngobrol tentang kesulitan dan kesenangannya jualan, Husayn bilang jualan itu “keringetan, panas, capek, banyak ditawar, dll” lalu kesenangannya apa? Husayn menjawab ” dapat uang pah, Husayn mau pakai uangnya untuk ajak teman Husayn nonton bioskop” (beberapa teman Husayn yatim dan kurang mampu hingga belum pernah nonton bioskop). Kami hanya tersenyum mendengarnya.. Kami banyak belajar darimu nak..

Entah sampai kapan Husayn akan berjualan, namun kami tak akan membunuh kreatifitasnya, kami akan terus mendampinginya, walau kemudian banyak yang kasak-kusuk tentang kegiatan Jualannya Husayn. Sekarang pelajaran math nya Husayn sudah mulai bertambah karena Husayn harus menghitung jualannya apalagi pelajaran sosialnya wahhh tak bisa di dapat dari sekolah formal.. Love u Husayn..

MF

 

memindahkan cerita dari arsip lama kami di sini

Comments

  1. Jadi kangeeeeeennnn sama Husayn ^_^

  2. Terharu bacanya semangat terus ya husayn, saya terinspirasi semangat Husayn dan orang tuanya ^_^

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge