Ali Tidak Pintar Kalau Tidak Sekolah

Pagi ini acara sarapan di meja makan lebih seru karena tiba-tiba sepupunya ali datang untuk bermain bersama, sang sepupu laporan kalau bulan juli nanti ia akan mulai masuk sekolah di SD dekat rumah yang dulu menjadi lokasi Husayn jualan, lokasinya sangat dekat, bisa dijangkau dengan jalan kaki, bahkan setiap waktu olahraga tiba, anak-anak sekolah tersebut selalu lewat depan rumah kami untuk jalan pagi. ketika sepupunya laporan kalau ia mau sekolah, spontan aku bertanya ke ali “ali mau daftar sekolah juga ?” ali pun senyum-senyum dan bilang “ngga, ngga, ngga, eeehh mau, mau, mau” nah mulai deh kami membahas hak dan kewajiban jika ali sekolah nanti.

Obrolan diawali dengan “jika ali sekolah maka ali harus berhenti ikut klub oase karena klub oase jadwalnya di rabu pagi dan itu bentrok sama sekolahnya ali.” lalu ali menjawab “hah ? oh nonononono ali harus tetep klub oase”. lalu lanjut lagi “jika ali sekolah, kita tidak bisa lagi field trip dan backpackeran sekeluarga kapan aja, jadi mesti nunggu jadwal libur sekolah ali dulu”. ali menjawab lagi “hah ? oh nonono mamah ali mau kita bisa field trip kapan aja”. lalu aku tersenyum dan belum menanggapinya, aku lanjutkan konsekuensi selanjutnya ” jika ali sekolah, maka ali harus mematuhi semua peraturan sekolah, pelajaran, seragam, dan aturan lainnya “. dan ali senyum-senyum sambil menggeleng kepalanya “ali ngga mau sekolah mama”.

Saat aku menawarkan (lagi) pagi ini opsi berpindah model pendidikan ke sekolah formal sebenarnya aku serius dan akan mengabulkan permintaan ali jika ali mau serius sekolah tetapi nyatanya ali lebih nyaman melanjutkan  untuk menjadi anak yang tidak bersekolah. lalu kemudian aku bertanya sebenarnya tujuan ali sekolah apa ? “biar ali pinter kayak tomo (sepupunya) mah, kata orang-orang sekolah akan membuat kita pinter, nanti ali tidak pintar kalo tidak sekolah kata orang-orang”. aku tidak bertanya lebih lanjut kepadanya siapa yang ali maksud dengan “orang-orang” yang ternyata telah mengusik kepercayaan dirinya. hehehe yang dianggap “pintar” oleh “orang-orang” tersebut mungkin kepintaran secara kurikulum nasional, maka akupun dengan spontan bertanya ke ali ” ali bisa menghitung perkalian ?”, ” bisa” jawab ali, lalu aku bertanya kepada sepupunya (yang usianya sama-sama 6 tahunan hanya beda 19 hari lahirnya dengan ali. “tomo bisa menghitung perkalian ?”, “bisa” jawab tomo.

Lalu aku bilang ke ali “ali boleh tanya soal perkalian ke tomo”, dan ali bertanya ke sepupunya “tomo, 20×2 berapa ?”, spontan aku protes kenapa perkaliannya puluhan, ali bilang “kan boleh tanya apa aja tentang perkalian”. lalu sepupunya menjawab “wah aku belum hafal li, bunda belum ajarin aku,belum sampai perkalian puluh-puluh”. lalu ali menjawab “haaa itu kan gampang mo, 20×2 itu ya berarti 20nya ada 2 jadi ya 40 ngapain dihafalin.” lalu sepupunya bilang “ali nggak boleh sombong loh”, lalu ali menjawab “aku bukan sombong mo, tapi aku cuma kasih tau kamu, maafin aku ya mo.” dan akupun tersenyum sambil berbisik di telinga ali “mama pernah ajarin ali perkalian ? | “nggak pernah ma, ali diajarin abang waktu main math dice.” | “ali hafal perkalian ?” | “ali nggak hafal tapi ali bisa tau jawaban perkalian kalau ali hitung dulu, kalau sering-sering baru nanti juga lama-lama hafal” | “berarti sebenarnya selama ini ali belajar hal yang sama dengan tomo dong, hanya bedanya tomo belajar di bimbel (persiapan masuk SD *hiks) dan ali belajar dimana saja sama abang, mama, papa, teman-teman oase dan yang lainnya. ” lalu senyumnya melebar memperlihatkan gigi ompongnya dan tiba-tiba kami bernyanyi bersama :

Di mana sajaaaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar aaaaar, dimana sajaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar, bersama siapa saja aku belajaaaaaaaaarrrrrrrrr

Jika boleh aku berpendapat, ternyata logika ali lebih jalan, ali tau apa itu perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian dan lainnya, dan kami tidak pernah mengajarinya dengan target untuk urusan ini, ali “hanya” bermain game dengan mama, papa dan kakaknya, saat ini aku merasa ali tidak penting menghafal hasil perkalian tetapi yang terpenting ali mengerti konsep perkalian, dan ilmu itu bisa bermanfaat untuk hidupnya. jadi kita lanjut cari ilmu di cakrawala luasnya nih ya li ?… hayuukkk.. kita bersama bergandengan tangan mencapai takdir terbaikmu…

Jumlah Bukan Ukuran Kebenaran

“Mamaaa… siapa tuh nama anak yang ngumpetin sandal di film hafalan shalat delisa ?, siapa ya hmm duh Husayn lupa nih.” Beberapa menit kemudian “yhaaa husayn inget, umar namanya umar”. Tak lama kemudian aku dan ali menjawab hampir bersamaan “umam bang bukan umar”, lalu ali juga menimpali “iya baang umam namanya, umam”. Lalu papa Faizal ikutan nyambung, “mama dan ali bilang namanya umam, siapa yang terbanyak biasanya yang benar”, tetapi kemudian papa faizal meralatnya “eh yang paling banyak belum tentu yang paling benar kok bang, kita juga harus mengeceknya, mempelajarinya agar benar-benar terbukti yang mana yang benar”. Dan obrolanpun berganti topik menjadi pembahasan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, untuk terus belajar dan kritis dalam setiap situasi.

Menurut kami isu mayoritas dan minoritas menjadi sangat penting untuk dibahas, selama ini sepertinya kita digiring kepada opini bahwa yang mayoritas adalah yang paling benar, karena didukung oleh banyak orang, sehingga minoritas dianggap sebagai kelompok “pemberontak” yang tak patuh kepada suara terbanyak. Aku menyadari bahwa memang benar suara terbanyak kadang dianggap pemenang tetapi sesungguhnya tak selamanya hukum itu berlaku.

Bersikap kritis adalah salahsatu sikap yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, kami menyampaikan kepada Duo Ali bahwa menjadi berbeda bukanlah aib, menjadi berbeda dengan ilmu adalah sikap ksatria, dan menghargai setiap pilihan orang lain adalah wajib. Kita harus memperjuangkan kebenaran walau jumlah kita hanya sedikit bahkan sendiri, dan satu-satunya “teman” dalam mencari kebenaran adalah Belajar, ya BELAJAR…

Di akhir obrolan panjang lebar tentang memperjuangkan kebenaran di tengah keluarga kecil kami ini, Ali berbisik di telingaku “mah, jadi sampai kapan kita harus belajar ?”, sambil mencium bibir mungilnya akupun tersenyum menjawab “sampai mati nak, sampai akhir hayat, sampai kita menutup mata untuk selamanya.” Sambil memperlihatkan gigi ompongnya Ali kecilku menimpali “Ali sayang mama sampai selamanya, selama-lamanya” *nyessss hatiku kok jadi adem banget ya.

Selamat belajar dalam kebahagiaan Ya nak, Iqro.. iqro.. Iqro.. *shalawat

IMG_2534-0.JPG

Resep Donat Kampung Empuk ala Duo Ali

Cemal-cemil adalah salahsatu kebiasaan Husayn dan Ali di rumah, termasuk kesukaan papanya juga. walaupun di depan rumah kami ada warung yang cukup lengkap, tetapi anak-anak jarang sekali meminta uang untuk jajan, aku dan mas faizal tidak pernah melarang anak-anak untuk jajan, kami hanya memberi tahu tentang makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi, dan anak-anakpun mengerti dengan sendiri.

Salahsatu cemilan yang anak-anak suka adalah donat, baik donat kentang, donat ala jco atau donat kampung sekalipun, dan keterampilan penting untuk duo ali adalah membuat cemilannya sendiri termasuk membuat donat, daaan inilah resep donat kampung empuuukk ala duo ali :

Resep Donat Kampung ala Duo Ali

500 gram tepung terigu protein tinggi atau protein sedang (tergantung persediaan)
100 gram gula pasir
1 sachet / 11gr ragi instant
1 butir telur
=/- 200gr air matang/air es
sedikit garam
50gr/1 SDM margarine

cara membuat :
masukkan terigu, gula dan ragi instant, diaduk hingga rata, lalu masukkan telur utuh dan air, uleni hingga menggumpal, lalu terakhir masukkan garam dan margarie, uleni hingga kalis elastis.
setelah kalis elastis, buat bulatan kecil (kalau aku sekitar 25-30gram), diamkan 10 menit, lalu bolongi tengahnya (ini pekerjaan favorit duo ali), setelah selesai di lubangi lalu diamkan hingga adonan menggendut.
donat kampung siap digoreng dengan api kecil.

Kami biasanya menggoreng semua adonan donat, lalu kami simpan di wadah kedap udara, dan kami simpan di freezer, kalau mau dimakan tinggal ambil secukupnya kemudian dihangatkan lg di penggorengan, atau tak perlu digoreng lagi, hanya di thawing aja si donat kampung sudah kembali empukk.. hmm nyam nyam nyaam.. yukk kita bikin cemilan sendiri, pasti lebih berkah karena terdapat banyak cinta di dalamnya..

salam donat ^_^IMG_2519.JPG

Salahmu itu Salahku nak

Plakk.. Tiba- tiba tangan ali mendarat ke tubuh abangnya, si abangpun cemberut kemudian berkaca-kaca, dengan refleks aku langsung teriak ke arah ali memintanya untuk berhenti dan meminta maaf ke abangnya, bukannya minta maaf ali malah cemberut dan diam tak bergeming.

Kejadian tersebut sudah terjadi beberapa kali, aku tak berhasil membuat ali mengerti untuk tidak memukul, padahal aku dan mas faizal tidak pernah mencontohkan memukul kepada anak – anak, tetapi sepertinya akhir-akhir ini ali mudah sekali menggunakan tangan atau kakinya untuk “menunjukkan kekuatan” kepada abangnya. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas kejadian ini, kesimpulan akhirku adalah kembali kepadaku, akulah yg salah karena tidak bisa mengkomunikasikan hal tidak baik ini kepada ali, akulah yang tak mampu menyentuh hatinya untuk bersabar, akulah yang tak mampu membuat ali mengerti bahwa perbuatannya menyakiti orang lain.

Sambil menghela nafas berusaha bersabar aku kemudian mengangkat tubuh mungil jagoan kecilku itu, aku letakkan ia di pangkuanku, kemudian dengan suara sangat pelan aku bilang kepadanya, “ali, maafkan mama ya, mama nggak bisa membuat ali mengerti bahwa abang sedih kalau ali memukul abang, bahwa memukul adalah perbuatan yang tidak terpuji, mama izin ya untuk beberapa waktu ke depan belajar lagi, baca buku lagi, atau ikut kelas-kelas cara mendidik anak yang baik, dan mama udah siap kalau harus dihukum”.

Keadaan yang tadinya hening pun kemudian berganti dengan isak tangis ali, ali memelukku erat, dan langsung meminta maaf, ia meyakinkan aku bahwa bukan aku yang salah atas perbuatannya, dan ia berjanji untuk tidak memukul lagi. Kemudian kami pun ngobrol panjang lebar tentang kejadian hari itu. Sampai kemudian ali berlari ke abangnya untuk meminta maaf sambil memeluk abangnya. Ah leganyaa..

Senyumku mengembang, aku belajar banyak hari ini, aku sadar bahwa jika anak- anak saat ini melakukan perbuatan tidak terpuji, itu adalah kesalahanku sebagai ibu yang tak bisa mengkomunikasikannya kepada mereka, aku yakin di dalam suatu hubungan jika kita dapat berkomunikasi dengan baik maka tak akan ada kejadian tidak menyenangkan. Mama masih harus belajar ya nak. Untuk selalu menemani kalian dalam kebaikan. Kebenaran dan kebahagiaan. Kita sama- sama belajar ya boys..

Tak lama kemudian “Plakkk..”, aku keluar kamar, dan kulihat dua belahan jiwaku itu menoleh ke arahku sambil nyengir menunjukkan gigi ompongnya “ahahaha tuhkan bang, mama pasti nyamperin kalo denger suara pukul-pukul, orang kita lagi pukul ini ya bang (nunjuk mainan) , tenang maah ali sama abang udah ngerti kok kalo pukul itu nggak bagus.. Hahahaha” dan akupun berlari menangkap kedua bos kecilku itu sambil mengelitiki keduanya.. Aku belajar, kalian belajar, kita belajar bersama ya nak..

IMG_2140.JPG

Semangat Qurban Duo Ali

Bulan dzulhijah telah tiba, saatnya umat muslim menyambut datangnya Idul Adha di tanggal 10 Dzulhijah nanti, begitupun dengan keluarga kami, kami mulai bersiap dan berencana akan kegiatan yang kami lakukan di hari idul adha nanti, kebetulan tahun ini kami akan merayakannya di Jakarta, tidak seperti tahun sebelumnya kami merayakannya di Kota Sukabumi, kampung halaman ayahku. walau kami berencana melaksanakan shalat Idul Adha di Jakarta tetapi rencananya kami tetap akan memberikan hewan kurban ke Sukabumi, dengan alasan bahwa orang kampung sekitar rumah disana masih banyak yang lebih memerlukan daging, daripada di Jakarta ini. tingkat perekenomian disini lebih baik daripada di sana.

Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati ini, dengan sangat kebetulan keuangan di keluarga kecil kami ini alhamdulillah lagi cukup untuk sehari-hari saja, belum cukup untuk membeli 4 ekor hewan kurban seperti yang kami rencanakan, ketika hal ini aku sampaikan kepada Husayn dan Ali ternyata mereka ingin membongkar celengan umroh dan celengan FESPER mereka, padahal aku tau duo Ali sangat berharap banyak dari celengan itu, Husayn dan Ali sangat ingin mengunjungi ka’bah dan ziarah ke makam Rasulullah SAW, dan Duo Ali juga sangat ingin ikutan acara Festival Pendidikan Rumah ( FESPER ) tahun depan di salatiga maka mereka sangat rajin menyisihkan uangnya ke dalam celengan-celengan tersebut. Alasan anak-anak mau membongkar celengan tersebut karena mereka sangat ingin memberikan hewan qurban tersebut atas nama rasulullah saw dan sayidina ali bin abi thalib idola mereka, karena di tahun-tahun sebelumnya anak-anak sudah berkurban atas namanya sendiri.
“Nanti kami mulai menabung lagi untuk umroh dan FESPER ma” kata mereka.

Ketika wacana membongkar celengan disebutkan, sebenarnya aku terkejut, anak-anak seperti tak ada beban ketika harus memberikan seluruh isi celengannya demi untuk memberikan bukti cinta mereka kepada ALLAAH SWT, rasulullah dan keluarganya. Aku tau ini tak seberapa jika dinilai dengan rupiah, tetapi melalui moment ini aku menjadi tau tentang kecintaan Duo Ali kepada Rasulullah dan keluarganya karena Duo Ali memberikan hadiah kurban ini untuk mereka. Subhanallah kami dititipkan anak-anak yang baik seperti kalian nak..

Selamat Idul Adha temen-teman, semoga keridhoan ALLAAH SWT menyertai kita semua..

Husayn Bergabung di Klub Membaca OASE

Membaca adalah salahsatu hobiku sejak kecil, juga jadi hobi pak Faizal, tapi entah mengapa sepertinya hobi kami berdua tidak menurun kepada Husayn dan Ali, mereka suka buku jika aku membacakannya tapi hampir tak pernah berinisiatif sendiri untuk mengambil buku dan membacanya, padahal buku-buku yang kami sediakan di rumah beragam jenisnya. dari mulai aku merasa santai, agak khawatir, sangat khawatir dan kembali ke santai lagi, Husayn masih tetap belum punya inisiatif untuk membaca buku.

Ketika beberapa bulan lalu ada wacana bahwa klub oase akan mengadakan book club, aku merasa senang sekali, karena aku berharap banyak di kegiatan ini, aku berharap Husayn tumbuh keinginannya untuk membaca, tetapi kembali lagi aku harus melapangkan hati untuk tak berharap banyak efek dari kegiatan ini, karena aku takut nantinya aku kecewa atau malah melakukan penekanan terhadap Husayn.

Hingga akhirnya hari rabu kemarin, kami memulai kegiatan itu, klub yg awalnya dinamai Klub Buku berubah menjadi lebih ringan  yaitu Klub Membaca. untuk pertemuan pertama anak-anak diberikan waktu untuk “show and tell”, anak-anak membawa buku favoritenya lalu menceritakan kepada teman-temannya apa keistimewaan buku tersebut sehingga mereka suka membaca buku itu. ketika kami datang ke lokasi klub membaca yang kali ini bertempat di rumah mbak ari di bilangan kayu putih, anak-anak sudah mulai berenang (kebetulan ada kolam renang di rumah mbak ari ), sesi show n’ tell sudah selesai, tanpa basa-basi Husayn dan Ali pun langsung ikutan berenang, bermain bersama teman-temannya, dengan perjanjian bahwa Husayn akan menceritakan tentang buku favoritnya nanti selesai berenang ketika sesi makan siang.

berenang sebelum show n’ tell

Saat sesi makan siang tiba, dibawah pohon mangga yang adem, anak-anak mulai makan dengan potluck yang sudah dibawa masing-masing plus mie goreng dan fuyung hai suguhan tuan rumah, hmm nyumnyum… ditambah segarnya es kelapa yang di bawa oleh ade hady. setelah selesai makan-makan dan minum es kelapa mulailah sesi Husayn dan Aza yang terlambat datang tadi untuk maju ke depan menceritakan tentang buku favorit mereka. Husayn bercerita tentang buku “Si buaya raksasa” yang ditulis oleh Roald Dahl dan diterjemahkan oleh mbak Poppy D. Chusfani. Husayn cerita tentang buku ini karena memang hanya buku ini yang serius pernah ia baca karena lucu katanya.

Husayn Bercerita Tentang Buku Favoritnya

Setelah sesi show n’ tell selesai, kami mulai bertukar buku yang boleh dipinjam oleh masing-masing anggota klub membaca, Husayn memilih buku “Frog n’ Toad are Friends” milik atala, alhamdulillah Husayn suka dan mulai melirik buku-buku yang ada di rumah. aku sangat senang dengan adanya klub ini, bergabung bersama teman-teman seperjuangan yang hebat, bukan hebat karena telah berhasil mendidik anaknya sesuai keinginan mereka tetapi hebat karena mau terus belajar dan saling memberi inspirasi.

Salam Cinta Membaca

*untuk yang mau tau lebih lanjut tentang Klub Oase kunjungi webnya di www.KlubOase.com atau Fans page www.Facebook.com/KegiatanKlubOase yaa ^_^

*foto mengambil dari dokumentasi @KlubOase

Kekuatan Diskusi Didalam Proses Homeschooling

Jika banyak orang bertanya bagaimana cara kami belajar, aku pasti bilang, mengobrol santai adalah salahsatu yang paling kami sukai untuk proses belajar. duo ali sangat suka bertanya ini dan itu, sepertinya hal ini juga pasti disukai oleh kebanyakan anak-anak, namun terkadang kita sebagai orangtua meremehkan pertanyaan dan pernyataan anak-anak sebagai angin lalu. padahal itulah salahsatu saat yang tepat untuk anak-anak menyerap pengetahuan.

Ali sangat peka terhadap irama, ali akan cepat menghafal doa-doa, ayat alqur’an atau apapun jika berirama, tidak hanya hafal tetapi ali juga memperhatikan kalimat demi kalimat (jika berbahasa indonesia) dengan pengetahuan yang dimilikinya, maka seringkali ali protes bertanya kepadaku dan papanya lalu kemudian mengubah beberapa syair lagu sesuai dengan nilai moral atau pengetahuan yang dimilikinya.

Semalam, untuk kesekian kalinya ali membahas tentang lagu “ambilkan bulan bu”, hal ini terjadi ketika ali bertanya kepadaku tentang warna bulan yang sebenarnya, mengapa bulan berwarna putih bukan kuning jika dilihat dari bumi ?, aku menjelaskan tentang bulan yang tidak memiliki cahaya sendiri, bulan bercahaya karena “diberi” cahaya oleh matahari, ditengah-tengah obrolan tiba-tiba ia berkata “kok lagu ambilkan bulan bu tidak sesuai sama kenyataan si ma ?”, lalu alipun menyanyi, ini sebagian syairnya :

ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu, yang slalu bersinar di langit, di langit bulan benderang, cahayanya sampai ke bintang, ambilkan bu untuk menerangi tidurku yang lelap di malam hari

Menurut ali, kata-kata “cahayanya sampai ke bintang” itu salah, karena sebenarnya bulan yang mendapat cahaya dari bintang, karena matahari itu termasuk bintang. hal ini terus saja ditanyakan kepadaku, kenapa lagu itu bisa terkenal padahal kan syairnya salah. di beberapa kali pembahasan akhirnya aku rekam suara ceriwisnya yang lagi bertanya tentang hal ini, rekamannya bisa didengar di sini : lagu ambilkan bulan diprotes oleh ali

Protes ali lainnya yang sempat aku rekam adalah tentang lagu “si kancil”, ini syairnya :

si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung jangan diberi ampun”

Menurut ali tidak adil jika makhluk tidak diberi ampun, karena ALLAAH swt saja memberikan ampunan kepada setiap makhluknya, mengapa kita tidak ajarkan sama si kancil akan buruknya mencuri ?, atau berikan saja ketimunnya agar kancil tidak mencuri, kancil sudah dihukum dengan kurungan maka seharusnya kancil diberi ampun. pembahasan yang panjang dan membuat kami senyum-senyum sendiri setelah akhirnya ali mengubah syairnya menjadi

si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung, lalu diberi ampun

berikut rekaman audionya : lagu kancil revisi ali

ali cium papa

Hingga kini aku dan faizal selalu tersenyum lucu dan takjub dengan celoteh-celoteh protesnya ali, kekuatan berdiskusi itu sangat besar manfaatnya bagi perkembangan pengetahuan anak-anak, jadi jangan remehkan setiap pertanyaan dan pernyataannya, mungkin dari jawaban atas pertanyaan kecil yang tak berbobot lahirlah anak-anak luar biasa yang akan memimpin negeri ini dengan akhlak mulia.

salam cinta,

Mella

Star Party di Pulau Pari

Perjalanan ini sudah lama kami rencanakan untuk di ikuti,  Husayn dan Ali pun telah lama menantinya, sayangnya beberapa hari sebelum berangkat Husayn demam jadilah kami dag dig dug, tak mungkin melakukan perjalanan ala backpacker dengan kondisi tubuh yang tidak fit, alhamdulillah kondisi Husayn semakin membaik hingga akhirnya kami putuskan untuk tetap berangkat karena kami yakin perjalanan ini akan “kaya” bagi Duo Ali.

Perjalanan dimulai di hari jum’at tanggal 7 juni 2013, jam 3 dini hari anak-anak sudah mulai bangun lalu bersiap untuk berangkat menuju Planetarium, kami memilih untuk bergabung bersama kakak-kakak di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta ( HAAJ ) dari awal perjalanan, agar anak-anak tau asiknya naik turun kendaraan umum menuju Pelabuhan Muara Angke. dari Planetarium kami naik bus kopaja menuju kuningan, lalu menyambung naik bus Trans Jakarta menuju Penjaringan, dari Penjaringan kami naik KWK 01 menuju Pelabuhan Muara Angke untuk kemudian menyeberang ke Pulau Pari dengan Kapal Ojek bertarif 30 ribu rupiah saja.

Selama perjalanan menuju Pulau, anak-anak sudah mulai asik mengobrol dengan kakak-kakak HAAJ, kak Rayhan menjelaskan nama-nama pulau yang kita lewati, lalu mereka juga membahas tentang kepulauan seribu, sampai membahas tentang bagaimana caranya mengantisipasi mabuk laut. sungguh perjalanan yang kaya, Husayn, Ali, Ceca, Atala dan Bibby dapat belajar tanpa harus berada di dalam “kotak”.

belajar tanpa kotak

belajar tanpa kotak

Sesampai disana kami menuju homestay, para laki-laki menunaikan shalat jum’at, lalu kemudian makan bersama, dilanjutkan dengan mengisi workshop tentang Planet di SD setempat, walau anak-anak tidak ikut memberikan materi tetapi mereka merasa ikut dalam “pelayanan” tersebut, anak-anak juga ikut berbaur bersama teman-teman di SD setempat.

Pukul 1 dinihari anak-anak mulai aku bangunkan untuk melakukan pengamatan hari pertama, kami sama-sama tiduran di lapangan tengah pulau untuk mengamati langit, alhamdulillaah cuaca cerah dan kami bisa belajar banyak, kak Rayhan menjelaskan tentang berbagai rasi bintang, menunjukkan letak-letaknya subhanallaah akupun banyak belajar malam itu, melihat dengan mataku berbagai kebesaran Allaah SWT tersebut.

pengamatan malam pertama

pengamatan malam pertama

Keesokan harinya anak-anak puas main di pantai bersama kakak-kakak, kami orangtuanya malah ngobrol-ngobrol di homestay, kekhawatiranku semakin sirna untuk urusan sosialisasi homeschooler, dari mulai pagi hari anak-anak ceria bermain bersama kakak, kalau kata wiwiet kami ini hanya seperti ambulance, keberadaannya sangat dibutuhkan tetapi hanya dalam keadaan darurat saja, jika keadaan baik-baik saja, kami benar-benar tak dilirik oleh anak-anak :). di Malam hari setelah makan malam anak-anak bermain “truth or dare” bersama kak @FahmiAmi kemudian anak-anak tidur untuk persiapan pengamatan dini hari, tetapi sayang ketika Husayn bangun di jam 2 dinihari, langit mendung dan sama sekali tak terlihat bintang disana :( akhirnya Husayn meneruskan tidurnya.

Pagi harinya anak-anak main di pantai yang sangat banyak Bintang Lautnya, kemudian dilanjutkan dengan berenang di pantai dan naik banana boat, setelah selesai kami bersiap pulang menuju Pelabuhan Muara Angke. di Kapal ojek Husayn duduk bersama kakak HAAJ di dek atas, Ali duduk bersama Atala dan bu Wiwiet, aku dan papanya malah duduk di dek bawah karena kapal sudah full, alhamdulillaah anak-anak tenang, happy dan tidak rewel. sesampai di Pelabuhan kami berfoto bersama. sungguh perjalanan yang sangat kaya, aku salut kepada kakak-kakak di HAAJ, mereka sangat perduli dengan anak-anak, menjawab setiap detail pertanyaan dengan ilmu , melibatkan anak-anak dalam setiap kegiatan sehingga anak-anak merasa menjadi bagian penting di komunitas itu, kakak-kakak HAAJ berasal dari berbagai profesi yg berbeda, jurusan kuliah yang berbeda, bahkan latar belakang usia yang berbeda, hanya satu kesamaannya, semua anggota HAAJ mencintai Astronomi. Mengutip quote dari Raken “Bahagia itu belajar sesuatu karena Cinta”. terima kasih kakak-kakak HAAJ, love u all.. sampai ketemu di Star Party 3 di Boschca :)

bersama kakak di pantai pasir perawan

bersama kakak di pantai pasir perawan

 

star party 2

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta

d/a Planetarium dan Observatorium Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73
Jakarta Pusat

Twitter : @haaj84
Facebook : Himpunan Astronomi Amatir Jakarta

Contact Person

Humas : Indra Firdaus  +6281905542205
Pin BB : 2A6C8024

Homeschooling Husayn Tentang Membangun Bisnis

homeschooling indonesia

sewa scooter Ali Husayn

Banyak anggapan di masyarakat bahwa seorang yang memilih metode homeschooling untuk pendidikannya maka nantinya akan menjadi enterpreneur atau pengusaha, karena sebagai pengusaha tidak diperlukan pendidikan formal layaknya profesi yang membutuhkan pendidikan formal. Sebagai keluarga yang memilih jalan homeschooling untuk pendidikan anak-anak kami sebenarnya hal tersebut tidak seratus persen benar, karena walau berlabel homeschooler sebenarnya anak-anak masih bisa mengejar profesi formal jika mereka menginginkannya.

Namun walau anak-anak nantinya akan memilih profesi formal kami beranggapan bahwa belajar berbisnis juga mutlak diperlukan, sehingga anak-anak kami nantinya tidak terlalu bergantung kepada lembaga yang menaungi pekerjaannya. Maka kemarin kami membahas tentang hal ini kepada Husayn dan Ali. Kesimpulannya Husayn dan Ali akan belajar membangun bisnisnya.

di lingkungan rumah kami sedang hangat-hangatnya anak-anak bermain scooter, namun demikian tidak semua anak beruntung untuk bisa memiliki scooter tersebut karena harganya juga tidak murah, melihat keadaan ini akhirnya husayn memutuskan untuk membuka usaha sewa scooter. Modal untuk membeli scooter didapat dari celengan husayn yang tadinya dikumpulkan untuk patungan membeli sapi di saat Idul Adha mendatang, berhubung masih ada waktu bbrp bulan maka Husayn membongkar celengan tersebut dan mengejar target untuk mengumpulkan uangnya lagi melalui uang sewa scooter.

homeschooling indonesia

husayn menghitung hasil tabungan

 

Ternyata hasil tabungan Husayn cukup untuk membeli dua buah scooter, kami lalu membelinya bersama-sama. Husayn memilih sendiri scooternya dibantu Ali yang juga ikut mengantar abangnya. Akhirnya scooter berwarna biru dan hijau menjadi pilihan Husayn. Sesampai di rumah kami lalu mempersiapkan strategi untuk bisnis Husayn tersebut.

Untuk harga sewa scooter Rp.3000/jam setiap penyewa diberikan kupon yang bisa ditukarkan dengan free 1 jam sewa jika sudah memiliki 10 kupon, Husayn memiliki target 10 jam penyewa perhari jika ingin bisnisnya BEP dalam 1 bulan. berhubung Husayn diajarkan tentang berbisnis bukan hanya jualan, maka Husayn harus mencatat data-data yang didapat dalam perjalanan bisnisnya.

Alhamdulillah usaha sewa scooter Husayn banyak diminati anak-anak lingkungan sekitar, dalam usahanya ini Husayn dibantu Bude Nur untuk mengecek dan menuliskan data-data (karena Husayn belum lancar menulis maka perlu pendampingan). Sebenarnya dari sisi belajar, Husayn tidak hanya belajar tentang bisnis, tetapi banyak hal didapatnya dari kegiatan ini, Husayn sekarang mulai mengerti konsep perkalian, menulis, mendata, mengenal waktu dan lainnya. Semoga kreatifitasnya akan lebih terasah dan Husayn bisa memikirkan peluang-peluang lain dalam kehidupannya.. Sekaraang kami mau berangkat ke Club Renang dulu yaaa… Husayn bilang mau giat berlatih agar bisa bertanding dan menjadi kebanggaan negaranya kelak :) yuk yuk yuk kapan-kapan kita playdate..

Salam Cinta,
@MellaKamal
@IsalKamal
@AliHusaynKamal
@AliHaidarKamal

Husayn Menjadi Duta Peduli Sampah

Sebagai Homeschooler, Husayn dan Ali memiliki banyak waktu untuk belajar dari kehidupan dibanding dari buku dan worksheet. Aku merasa, Husayn dan Ali harus memiliki sesuatu yang dapat mereka bagi manfaatnya untuk orang lain. Setelah kami fikirkan bersama, sepertinya berbicara tentang pengolahan sampah tak akan ada habisnya bagi kita masyarakat Jakarta.

Kami berdiskusi tentang hal apa saja yang bisa dilakukan jika kita mempelajari dan mengetahui ilmu tentang sampah. Lalu kami juga berfikir kira-kira ke mana kami harus “berguru” untuk tau ilmunya tentang pengolahan sampah selain dari internet. Apa yang dapat dilakukan oleh anak seusia Husayn dan Ali untuk kepeduliannya tentang sampah, selain hanya dengan “buang sampah pada tempatnya” ?. [Read more…]