Perjalanan Zero Complaint ( Amazing Java Bali Roadtrip )

Di awal perjalanan kami berdiskusi sekeluarga, kami sama-sama sepakat bahwa apapun yang terjadi di petualangan kali ini maka kami harus menikmatinya dan mengambil hikmah sebagai pengalaman yang kaya. Kami sengaja naik kereta ekonomi ac tawang jaya selain karena kami berempat bisa memilih kursi 2-2 dan anak2 bisa tidur gelosoran di bawah sepanjang perjalanan, juga karena tiketnya murah meriah sehingga alokasi dana tiket bisa buat hal lain.

Kami memesan tiket melalui ayah Reza Setyawan karena kebetulan proses pembelian dari aplikasi KAI yang biasa kami pakai agak terganggu jadi kami tidak bisa memesan sendiri. Daaaan ternyataaah sodara-sodara, kami duduk di kursi 3-3 jd tentu saja ini merubah rencana kenyamanan perjalanan ini. #DuoAli langsung cemberut sejenak dan kemudian tersenyum bersama. Yak karena mengusung tema #zerocomplain jadi kami sadar bahwa ini pasti ada hikmahnya. Betul saja, ternyata yang duduk sebangku dengan kami adalah seorang ibu yang menggendong bayi usia 10bulan yg sedang demam, dan ibu tersebut dapat kursi bagian C, yaitu kursi paling ujung dekat lorong bukan kursi pojok, terbayang ibu tersebut pasti akan kelelahan menggendong tanpa senderan semaleman dibawah ac yang dingin pula, akhirnya kami persilahkan si ibu duduk di kursi kami di pojok dan lebih hangat, #Ali8y memutuskan tetap menggelar alas tidur di kolong kursi. Aku mengambil selimut yang cukup dipakai oleh #DuoAli dan bisa membuat mereka tidur nyenyak semalaman.

Tidak terbayang jika si ibu bersama bayinya duduk di bawah ac yg sangat dingin tanpa ada senderan tangan semalaman.. Fiuh.. Dan pengalaman semalam sukses membuatku dan papa Faizal Kamal tidur sehariaaan hari ini karena ga bisa tidur semalam. Hihihi.. Let’s rock kids… Kita bobo nyaman dulu malam ini di semarang untuk energi besok meneruskan perjalanan ke salatiga bertemu dengan #KeluargaSetyawan
Alhamdulillaah.. *shalawat

#KeluargaSetyawan
#KeluargaKamal
#AmazingJavaBaliRoadtrip
#JelajahLangitBiru
#KeluargaMandiri
#Travelschooling
#Homeschooler
#KangenAmazingTeam

Kejutan di Hari Pendidikan Nasional 2016

Memulai menulis tentang pengalaman seharian di hari pendidikan nasional ini selalu membuatku terharu, banyak kejadian yang tidak aku sangka akan terjadi. tahun ini klub oase bersama dengan rumah inspirasi bergabung di gerakan pesta pendidikan yang digagas oleh mbak Najeela Shihab, Pesta Pendidikan adalah gerakan yang mengusung tema “Semua Murid, Semua Guru”, sejuk rasanya ketika aku membaca konsep gerakan keren ini, karena nilai-nilai yang ingin dibangun didalamnya sangat dekat dengan apa yang sudah kami keluarga homeschooler lakukan, gerakan pesta pendidikan ini sangat di dukung oleh pihak kementrian, di gerakan pesta pendidikan ini kami bertemu dengan banyak teman seperjuangan di dunia pendidikan dengan visi dan misi yang kurang lebih satu frekuensi.

Mengawali hari pendidikan nasional 2 mei 2016 ini dengan berangkat ke Kementrian DIKBUD untuk menemani Zaky dan Tata yang akan mengikuti pesta mural, sesampainya di sana tanpa diduga ternyata Husayn bisa ikut menjadi peserta juga, ini pengalaman pertama untuk Zaky, Husayn dan Tata menggambar di bidang besar, dan kebetulan mereka menjadi peserta termuda dan tidak bersekolah formal diantara para peserta dengan usia SMP dan SMA. seakan ALLAH SWT ingin memberikan kami para homeschooler terlihat oleh mas menteri yang baik hati, bukan kebetulan jika ternyata posisi anak-anak menggambar berada tepat di depan posisi podium mas menteri. waktu berjalan dengan lancar dan aku sungguh terharu dengan hasil mural anak-anak, mural yang ceria khas anak-anak namun dapat menyampaikan pesan untuk orang yang melihatnya.

hardiknas

anies baswedan

 

Didalam rangkaian pesta pendidikan 2016 ini kami Klub Oase dan Rumah Inspirasi berkesempatan membuat satu acara yang dinamakan “Bincang Seru Homeschooling 2016”, acara kami nantinya akan disupport penuh oleh pesta pendidikan, kami memang berencana ingin membuat acara ini kembali setelah di tahun 2014 kami menyelenggarakannya, hanya kami tidak menyangka kalau akhirnya acara ini bisa tergabung didalam rangkaian pesta pendidikan. Untuk lokasi acara ini rencananya kami akan dipinjami ruangan di salahsatu gedung kemdikbud, mbak Najeela Shihab menjadi perantara antara kami dan KEMDIKBUD untuk mendapatkan tempat yang pas, kebetulan saat acara pesta mural berlangsung aku dan mas aar di perkenalkan kepada mbak Hilmi dari pihak DIKBUD yang sudah mengizinkan kami untuk memakai tempat disana, dan kami pun dipersilahkan untuk mengecek lokasi yang telah disediakan untuk acara tanggal 21 mei nanti.

Setelah berkenalan dengan pihak KEMDIKBUD aku dan mas aar mulai berjalan lorong demi lorong, sambil kami mengobrol tentang apa itu homeschooling kepada ibu bapak yang mengantar kami menuju lokasi, entah mengapa rasa hangat menjalar di leherku kemudian turun ke hati, aku tidak menyangka sebagai “homeschooling pastel” yang selalu dituding sebagai keluarga yang susah diatur oleh pihak-pihak tertentu (pastinya bukan pihak DIKBUD – sensor) padahal kami ini keluarga yang mau diatur sebenarnya loh jika memang yang mengatur benar-benar pihak yang seharusnya mengatur ( hihihi maap lebay ) dan dianggap tidak akan dilirik oleh pihak KEMDIKBUD kemudian bisa berada sedekat ini dengan pihak kementrian, dan mereka sangat terbuka, merangkul kami bahkan ternyata setelah mengobrol dengan mbak Hilmi, beliau akan mensupport penuh untuk acara kami, dan  akan menjadi bagian dari rangkaian acara HARDIKNAS, boleh memakai logo HARDIKNAS dan lain sebagainya. rasanya seperti mendapat durian runtuh yang sudah dikupas ( karena aku lebih suka durian kupas daripada kulit durian. hehehe apaseh, abaikan). yang serunya lagi kami boleh memakai Graha Utama di Gedung A yang lokasinya satu lantai dengan kantor pak Menteri. huhuhu terharuuuu…

Setelah urusan mengobrol dan Administrasi selesai, disaat aku masih merasakan air  hangat ingin jatuh dari mataku, aku mendapat kabar bahwa di malam itu, di acara siaran langsung Pesta Pendidikan yang akan disiarkan oleh Metro TV yang mengambil slot acara Mata Najwa, Kaysan salahsatu anak yang sering berkegiatan bersama di Klub Oase akan menjadi salahsatu bintang tamu sebagai siswa berprestasi. lagi-lagi leherku tercekat, malam itu salahsatu anak homeschooling akan diwawancara oleh pak menteri disiarkan oleh TV nasional, iya diwawancara langsung oleh pak Menteri karena ternyata malam itu Pak Menteri yang menjadi host. huhuhu makin lebay, rasanya gerilya perjuangan itu mulai ditunjukkan ALLAH SWT hasilnya. Malam itu aku, lala dan wiwiet akhirnya memutuskan untuk bersama-sama mensupport Kaysan dan menonton langsung acaranya di gedung Arsip Nasional. sepanjang acara rasanya benar-benar mataku menghangat. aku tau ini bukan akhir dari sebuah perjalanan, justru ini adalah awal dari sebuah perjuangan. kalau kata sahabatku gus Aji “anak homeschool nggak perlu menjadi apa-apa, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri”, teman-teman ada yang mau merasakan energi keluarga homeschooling dan ingin tau banyak sebenarnya apa sih homeschooling itu ? yuk kita “kembali belajar” di tanggal 21 mei 2016 nanti, datang ke acara Bincang Seru Homeschooling 2016. tunggu informasi selanjutnya dari kami yaa….

13087783_10207520534349126_7266909833997311513_n

13133168_10153558553401778_5001801203296457223_n

 

 

Star Party dan Ulang Tahun HAAJ 2016

Empat tahun yang lalu, adalah star party pertamanya, dengan “perlengkapan perang” lengkap aku menemaninya berselancar di kegelapan malam, belajar mencari planet yang terlihat oleh mata telanjang, sampai berburu saturnus si planet bercincin. Husaynku berlarian kesana kemari, antusias berpindah dari satu teleskop ke teleskop lainnya, sementara aku berselimut tebal di dalam tenda yang kami.

 

Ya, itu empat tahun lalu ketika Husaynku masih berusia 6 tahun, masih harus kami dampingi kemana saja setiap kegiatan yang ia ikuti. Empat tahun yang lalu ketika giginya masih banyak yang ompong, dan suaranya masih melengking tinggi. Hari ini setelah empat tahun berlalu, aku tidak lagi mengantarnya hingga ke lokasi star party, kali ini aku hanya perlu memencet “booking” di aplikasi gojek lalu ia menciumku dan memelukku erat dan kemudian berangkat bersama abang gojek menuju planetarium, untuk kemudian berangkat bersama kakak-kakak himpunan astronomin amatir Jakarta menuju lokasi star party di BALIKLIMAT kota bogor.

husayn

Berbicara tentang passion, aku belum melihat Husayn mencintai astronomi karena ilmu astronominya, tetapi husayn mencintai komunitas astronomi itu sendiri, yang terdiri dari banyak kakak-kakak yang baik hati, mau membuka diri bagi anak-anak seperti husayn, Husayn bukan hanya diterima di komunitas yang luar biasa ini tetapi dirangkul layaknya adik kecil diantara kakak-kakak. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan komunitas yang luar biasa ini.

 

Selesai acara star party Husayn menghubungiku melalui whatsap, bahwa rombongan akan kembali ke Planetarium Jakarta dan akupun bersiap untuk memesankan om gojek untuknya, sepulangnya dari sana, ia pun bercerita bahwa ia bahagia karena bisa ikut star party dan mendapat kejutan karena Husayn mendapatkan potongan tumpeng pertama ketika syukuran ulang tahun himpunan Astronomi Amatir Jakarta yang ke 33. Yaiyy alhamdulillaah.. banyak pengalaman dan banyak kebahagiaan ya nak. selamat ulang tahun HAAJ, terima kasih karena telah menjadi salahsatu “sekolah” kehidupan Husayn..

 

Husayn Presentasi di Pertemuan Rutin Komunitas Astronomi

Hari sabtu kemarin merupakan hari yang membuat Husayn dag dig dug, karena kemarin Husayn diberikan tugas untuk memberikan materi presentasi di depan orang banyak, pada pertemuan rutin komunitas astronomi yang husayn ikuti. sudah setahun ini Husayn menjadi anggota di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta ( HAAJ ), pertemuan rutin dilakukan di kantor Planetarium, Taman Ismail Marzuki, cikini, jakarta pusat. kegiatan di pertemuan rutin dwi mingguan biasanya diawali dengan presentasi dari pembicara, dilanjutkan dengan tanya jawab, lalu diskusi, dan jika langit cerah diadakan pengamatan dari atap planetarium menggunakan teropong milik planetarium/ HAAJ.

Sebagai orangtua homeschooler  aku selalu berusaha mencari komunitas-komunitas yang dapat diikuti oleh Husayn dan Ali, hal itu kulakukan dengan alasan bahwa berkomunitas merupakan salahsatu cara terbaik untuk menimba ilmu dan bersosialisasi. bertemu dengan HAAJ merupakan hal yang sangat berharga untuk kami, karena para pengurus dan anggota di HAAJ sangat welcome dengan kehadiran husayn dan beberapa teman homeschooler yang notabene masih unyu, cerewet, juga berisik, tetapi karena mereka ada disana berdasarkan passion maka setiap hal yang dilakukan menjadi terasa hangat, sehingga anak-anak nyaman berada disana dan para kakak juga menjadi partner serta guru yang hebat untuk Husayn dan Ali.

Saat Husayn bilang kepadaku bahwa ia akan mempersiapkan sebuah slide untuk dipresentasikan pada pertemuan rutin selanjutnya, aku agak kaget bercampur bahagia, karena husayn diberikan kesempatan untuk unjuk diri dan dilibatkan didalam kegiatan yang diikuti oleh sebagian besar usia remaja dan dewasa, Husayn pun kulihat sangat antusias, karena merasa dilibatkan dan tidak hanya dianggap sebagai “anak bawang”.

Dalam mengerjakan proyek ini Husayn didampingi oleh papanya sebagai partner yang membantu menemani setiap proses belajarnya, diawali dengan mencari materi bersama, lalu menyusun power point bersama, kemudian papanya juga menjadi komentator saat husayn latihan presentasi, proses ini sangat mengharukan buatku, terasa sekali dua orang yang kucintai ini ada didalam kerjasama yang penuh cinta. semua proses dilalui dengan sangat mengasyikan, tidak ada keluhan sedikitpun dari husayn walau aku tau ini bukan proses yang mudah bagi anak usia 8 tahun untuk mengerjakannya.

Akhirnya saat yang dinanti tiba, sabtu kemarin cuaca hujan dari malam sebelumnya, sehingga suasana agak membuat orang ingin ada di dalam selimut saja di akhir pekan, dan Husayn pun berpikir peserta yang akan datang akan sedikit jadi agak menenangkan hatinya, karena akan ditonton oleh sedikit orang, ternyata jeng jeng jeng pas kami sampai disana, kelas sudah mulai penuh oleh peserta, kebetulan ada siswa SMA di bogor yang datang serombongan menggunakan Bis, dan kulihat Husaynpun mulai grogi, tapi aku dan papanya hanya tersenyum menguatkan hatinya tanpa memberikan wejangan macam-macam.

Saat pemateri pertama selesai melakukan presentasi, selanjutnya nama Husayn dipanggil, kulihat dengan santainya ia maju ke depan, ketika tau bahwa pemateri selanjutnya adalah Husayn, homeschooler berusia 8 tahun kulihat beberapa peserta tersenyum, dan presentasipun dimulai. alhamdulillah presentasi berjalan lancar, lucunya setelah acara selesai ternyata banyaak sekali kakak-kakak yang meminta foto bareng dengan Husayn, sambil senyum manis Husaynpun dengan senang hati memenuhi permintaan tersebut.

Terima kasih kak Ami dan seluruh kakak di Himpunan astronomi Amatir Jakarta karena telah memberikan kesempatan untuk Husayn di acara tersebut.

 

Belajar Piano Dengan Bahagia

Terkadang kita sebagai orangtua mudah mengadili anak-anak untuk bilang bahwa ia tak berbakat, ia pemalas, tidak konsisten dll, padahal mungkin saat itu adalah proses eksplorasi dirinya. 

Setelah pernah belajar piano 3tahun yang lalu kemudian berganti belajar biola setahun kemudian, sampai mencoba belajar drum, namun akhirnya #Husayn9y kembali meminta belajar piano lagi. 

Menemukan guru terbaik memang tak mudah, setelah mencari info guru piano sampai tempat kursus piano yang paling memungkinkan, alhamdulillaah aku teringat pada sosok pak dosen musik UNJ, komposer sekaligus pianis handal yang pernah berkenalan di kereta jogja-jakarta 3 tahun lalu ketika keluarga kami backpakeran dalam proses #Homeschooling anak-anak, om adit namanya, Dan pagi ini husayn mulai berguru kepada beliau, sepulang belajar ia ngoceh panjang lebar betapa asiknya berpiano, betapa mudah dimengerti semua arahan om adit, dan mulai merancang mimpi dengan pianonya, serunya lagi mulai minggu depan husayn akan berangkat naik sepeda sendiri ke rumah om adit buat belajar piano.

Ahh mama tau nak kamu tak berlebihan karena mama melihat binar mata bulat dan senyum lebar itu sama ketika kamu bercerita tentang basket. Alhamdulillaah terima kasih karena dipertemukan dengan guru-guru yang dengan baik membangun bonding. 

Sebenarnya mudah sekali melihat parameter kesuksesan dari suatu proses belajar, Kalo kata bu lala dan pak siddiq lagunya gini “lihatlah wajah dan mata mereka, belajar dengan bahagiaaaaaa”..


  

Ali Tidak Pintar Kalau Tidak Sekolah

Pagi ini acara sarapan di meja makan lebih seru karena tiba-tiba sepupunya ali datang untuk bermain bersama, sang sepupu laporan kalau bulan juli nanti ia akan mulai masuk sekolah di SD dekat rumah yang dulu menjadi lokasi Husayn jualan, lokasinya sangat dekat, bisa dijangkau dengan jalan kaki, bahkan setiap waktu olahraga tiba, anak-anak sekolah tersebut selalu lewat depan rumah kami untuk jalan pagi. ketika sepupunya laporan kalau ia mau sekolah, spontan aku bertanya ke ali “ali mau daftar sekolah juga ?” ali pun senyum-senyum dan bilang “ngga, ngga, ngga, eeehh mau, mau, mau” nah mulai deh kami membahas hak dan kewajiban jika ali sekolah nanti.

Obrolan diawali dengan “jika ali sekolah maka ali harus berhenti ikut klub oase karena klub oase jadwalnya di rabu pagi dan itu bentrok sama sekolahnya ali.” lalu ali menjawab “hah ? oh nonononono ali harus tetep klub oase”. lalu lanjut lagi “jika ali sekolah, kita tidak bisa lagi field trip dan backpackeran sekeluarga kapan aja, jadi mesti nunggu jadwal libur sekolah ali dulu”. ali menjawab lagi “hah ? oh nonono mamah ali mau kita bisa field trip kapan aja”. lalu aku tersenyum dan belum menanggapinya, aku lanjutkan konsekuensi selanjutnya ” jika ali sekolah, maka ali harus mematuhi semua peraturan sekolah, pelajaran, seragam, dan aturan lainnya “. dan ali senyum-senyum sambil menggeleng kepalanya “ali ngga mau sekolah mama”.

Saat aku menawarkan (lagi) pagi ini opsi berpindah model pendidikan ke sekolah formal sebenarnya aku serius dan akan mengabulkan permintaan ali jika ali mau serius sekolah tetapi nyatanya ali lebih nyaman melanjutkan  untuk menjadi anak yang tidak bersekolah. lalu kemudian aku bertanya sebenarnya tujuan ali sekolah apa ? “biar ali pinter kayak tomo (sepupunya) mah, kata orang-orang sekolah akan membuat kita pinter, nanti ali tidak pintar kalo tidak sekolah kata orang-orang”. aku tidak bertanya lebih lanjut kepadanya siapa yang ali maksud dengan “orang-orang” yang ternyata telah mengusik kepercayaan dirinya. hehehe yang dianggap “pintar” oleh “orang-orang” tersebut mungkin kepintaran secara kurikulum nasional, maka akupun dengan spontan bertanya ke ali ” ali bisa menghitung perkalian ?”, ” bisa” jawab ali, lalu aku bertanya kepada sepupunya (yang usianya sama-sama 6 tahunan hanya beda 19 hari lahirnya dengan ali. “tomo bisa menghitung perkalian ?”, “bisa” jawab tomo.

Lalu aku bilang ke ali “ali boleh tanya soal perkalian ke tomo”, dan ali bertanya ke sepupunya “tomo, 20×2 berapa ?”, spontan aku protes kenapa perkaliannya puluhan, ali bilang “kan boleh tanya apa aja tentang perkalian”. lalu sepupunya menjawab “wah aku belum hafal li, bunda belum ajarin aku,belum sampai perkalian puluh-puluh”. lalu ali menjawab “haaa itu kan gampang mo, 20×2 itu ya berarti 20nya ada 2 jadi ya 40 ngapain dihafalin.” lalu sepupunya bilang “ali nggak boleh sombong loh”, lalu ali menjawab “aku bukan sombong mo, tapi aku cuma kasih tau kamu, maafin aku ya mo.” dan akupun tersenyum sambil berbisik di telinga ali “mama pernah ajarin ali perkalian ? | “nggak pernah ma, ali diajarin abang waktu main math dice.” | “ali hafal perkalian ?” | “ali nggak hafal tapi ali bisa tau jawaban perkalian kalau ali hitung dulu, kalau sering-sering baru nanti juga lama-lama hafal” | “berarti sebenarnya selama ini ali belajar hal yang sama dengan tomo dong, hanya bedanya tomo belajar di bimbel (persiapan masuk SD *hiks) dan ali belajar dimana saja sama abang, mama, papa, teman-teman oase dan yang lainnya. ” lalu senyumnya melebar memperlihatkan gigi ompongnya dan tiba-tiba kami bernyanyi bersama :

Di mana sajaaaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar aaaaar, dimana sajaaaaa, kapan sajaaaaaa, bersama siapa saja aku belajar, bersama siapa saja aku belajaaaaaaaaarrrrrrrrr

Jika boleh aku berpendapat, ternyata logika ali lebih jalan, ali tau apa itu perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian dan lainnya, dan kami tidak pernah mengajarinya dengan target untuk urusan ini, ali “hanya” bermain game dengan mama, papa dan kakaknya, saat ini aku merasa ali tidak penting menghafal hasil perkalian tetapi yang terpenting ali mengerti konsep perkalian, dan ilmu itu bisa bermanfaat untuk hidupnya. jadi kita lanjut cari ilmu di cakrawala luasnya nih ya li ?… hayuukkk.. kita bersama bergandengan tangan mencapai takdir terbaikmu…

Zero Waste Itu Candu

“Bu, repot ya bawa kotak banyak ? Ibu melakukan ini untuk apa ?” | “untuk bumi ALLAH” jawabku singkat, lalu beliau bilang lagi, “apa nanti difoto buat di upload ?” | “nggak, karena dulu udah pernah”. Dan beliaupun tersenyum maniisss sekali, isyarat matanya seakan bertanya “kita beneran melakukan ini buat anak cucu cicit dan karena ALLAH SWT kan ?”.

Beberapa bulan ini memang sepertinya SANG MAHA memang sedang menuntun keluarga kami untuk lebih sadar kalau bumiNYA ini dititipkan kepada kami dan kami harus menjaganya. Alhamdulillaah kalau dijalani perlahan tanpa beban insya allah bisa konsisten.

Maaf ya sayangku akhirnya ternyata aku harus kembali memposting gambar kotak-kotak belanja kia pagi ini, bukan untuk mengintimidasi hanya ingin memberitahu kepada dunia bahwa “Belanja TANPA SAMPAH itu CANDU” nggak percaya ? Cobain deh yukk kita bareng-bareng menikmati Kecanduan ini.

Bergandengan Tangan Menggali Bakat Minat Anak

Beberapa hari ini aku sangat serius membaca beberapa buku tentang pengembangan bakat minat anak, salah satunya adalah buku Ayah Edy yang berjudul “memetakan potensi unggul anak”, bukunya bagus dan membuka wawasan terutama bagi para orangtua yang bingung bagaimana mengenali bakat minat anak yang nantinya dapat menjadi sarana sukses anak secara finansial dan berbagi manfaat bagi orang lain.

Pagi ini tiba-tiba Husaynku datang dan bilang bahwa aku terlalu serius membaca bukunya, sehingga ia sangat ingin tau buku apa yang sedang aku baca, aku menjelaskan kepadanya bahwa aku sedang belajar untuk dapat menemaninya menuju tujuan hidupnya kelak, dan aku sangat butuh kerja sama darinya agar kami dapat berjalan bersama, Husayn lalu memelukku dan mengucapkan terima kasih, dan ia berjanji akan bekerjasama untuk hal itu.

Menemani perjalanan kesuksesan anak-anak adalah tugas penting semua orangtua, kita seperti sedang berjalan bersama di dalam lorong dengan banyak cabang, terkadang anak ingin belok ke kiri tetapi orangtua maunya ke kanan, atau sebaliknya. maka didalam perjalanan ini diskusi menjadi hal yang sangat penting dilakukan, kita harus memiliki telinga yang lebih lebar dibanding mulut yang terus berbicara, sehingga kita bisa menjadi partner yang dipercaya oleh anak-anak.

Kebanyakan dari orangtua biasanya menggunakan otoritas besarnya untuk membuat anak menjadi sukses dalam versinya, tanpa banyak bertanya apa sesungguhnya hal bahagia yang dapat membawanya menuju kesuksesan lahir bathin. aku punya sedikit cerita tentang pentingnya bakat minat anak yang akan membimbing mereka dalam kesuksesan, berikut sedikit ceritanya :

aku memiliki sepupu, vicky namanya (nama sebenarnya) hehehe, ketika akan lulus SMP vicky bilang sangat ingin masuk sekolah tata boga karena ia sangat suka memasak, membuat kue dan semua yang berhubungan dengan kuliner, tadinya papanya tidak mendukung karena vicky anak laki-laki yang diharapkan punya profesi “keren” kelak, tapi ibunya (tante aku) mendukung vicky dan akhirnya memasukkannya ke sekolah tata boga. ketika hal ini diceritakan ke keluarga besar kami, banyak keluarga besar yang menyayangkan karena vicky mengambil jurusan sekolah yang tidak keren, hanya aku yang bilang bahwa vicky anak hebat, yang kelak akan berhasil dibidangnya.

tanteku  semakin optimis setelah aku sampaikan bahwa vicky tidak harus menjadi chef, vicky bisa jadi pengusaha restoran atau pengusaha catering bahkan pemilik hotel nantinya, karena vicky melakukan pekerjaannya dengan cinta.

kemarin ketika arisan keluarga, tanteku menunjukkan foto vicky yang bangga memakai baju prakteknya lengkap dengan celemek, vicky juga cerita banyak tentang tekni memasak dan teknik lain dalam dunia kuliner yang ia pelajari, bahkan vicky sekarang sering menjadi pemimpin di kelompoknya, matanya berbinar dan bibirnya penuh senyum, aku melihat binar kesuksesan kelak di mata itu, alhamdulillaah sekarang vicky setara kelas 1 SMA di sekolah tata boga, vicky masih terus berjalan dan beruntungnya vicky ada tangan orangtuanya yang menuntunnya dengan penuh kasih.

Sekarang ini jarang sekali anak-anak yang tau tujuan hidupnya, kebanyakan anak hanya mengikuti jalur yang sudah ada, mengekor kesuksesan teman-temannya, atau pasrah mengikuti obsesi orangtuanya sehingga mereka baru sadar ketika sudah “tersesat” situasi yang jauh berjalan sehingga merasa susah untuk keluar dari situasi tersebut. semoga kita mampu membuka telinga lebih lebar untuk banyak mendengarkan anak-anak sehingga bisa berjalan beriringan menuju kesuksesan mereka kelak. mama masih banyak belajar, kita sama-sama belajar ya nak…

Jumlah Bukan Ukuran Kebenaran

“Mamaaa… siapa tuh nama anak yang ngumpetin sandal di film hafalan shalat delisa ?, siapa ya hmm duh Husayn lupa nih.” Beberapa menit kemudian “yhaaa husayn inget, umar namanya umar”. Tak lama kemudian aku dan ali menjawab hampir bersamaan “umam bang bukan umar”, lalu ali juga menimpali “iya baang umam namanya, umam”. Lalu papa Faizal ikutan nyambung, “mama dan ali bilang namanya umam, siapa yang terbanyak biasanya yang benar”, tetapi kemudian papa faizal meralatnya “eh yang paling banyak belum tentu yang paling benar kok bang, kita juga harus mengeceknya, mempelajarinya agar benar-benar terbukti yang mana yang benar”. Dan obrolanpun berganti topik menjadi pembahasan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, untuk terus belajar dan kritis dalam setiap situasi.

Menurut kami isu mayoritas dan minoritas menjadi sangat penting untuk dibahas, selama ini sepertinya kita digiring kepada opini bahwa yang mayoritas adalah yang paling benar, karena didukung oleh banyak orang, sehingga minoritas dianggap sebagai kelompok “pemberontak” yang tak patuh kepada suara terbanyak. Aku menyadari bahwa memang benar suara terbanyak kadang dianggap pemenang tetapi sesungguhnya tak selamanya hukum itu berlaku.

Bersikap kritis adalah salahsatu sikap yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, kami menyampaikan kepada Duo Ali bahwa menjadi berbeda bukanlah aib, menjadi berbeda dengan ilmu adalah sikap ksatria, dan menghargai setiap pilihan orang lain adalah wajib. Kita harus memperjuangkan kebenaran walau jumlah kita hanya sedikit bahkan sendiri, dan satu-satunya “teman” dalam mencari kebenaran adalah Belajar, ya BELAJAR…

Di akhir obrolan panjang lebar tentang memperjuangkan kebenaran di tengah keluarga kecil kami ini, Ali berbisik di telingaku “mah, jadi sampai kapan kita harus belajar ?”, sambil mencium bibir mungilnya akupun tersenyum menjawab “sampai mati nak, sampai akhir hayat, sampai kita menutup mata untuk selamanya.” Sambil memperlihatkan gigi ompongnya Ali kecilku menimpali “Ali sayang mama sampai selamanya, selama-lamanya” *nyessss hatiku kok jadi adem banget ya.

Selamat belajar dalam kebahagiaan Ya nak, Iqro.. iqro.. Iqro.. *shalawat

IMG_2534-0.JPG

Kurangi Sampah, Selamatkan Bumi

Cerita keluarga kecil kami pagi ini dimulai dengan pergi ke pasar bersama. setelah shalat subuh aku, papa faizal, ali dan husayn bersiap untuk jalan pagi menuju pasar tradisional. Di saat keluarga lain sibuk dengan seragam kerja dan seragam sekolah, kami berempat (yang belum mandi ini) pun sibuukk buat siap-siap ke pasar.

IMG_2549.JPG
Biasanya kalau ke pasar aku hanya membawa tas besar untuk dimasukkan barang belanjaan, dan setelah pulang dari pasar ketika aku membersihkan sayuran, daging, ikan dll selalu terselip rasa bersalah, karena sampah plastik sisa bungkusan belanjaan banyak sekali dan tentu saja tidak bisa dipilah dan disimpan karena biasanya plastik-plastik tersebut berbau tak sedap.

Beberapa kali aku ngobrol dengan sahabatku shanty (salahsatu praktisi homeschool juga) bagaimana cara memilah sampah, pasti jawaban pertamanya adalah “lebih baik kurangi sampahnya, tak perlu susah dulu memikirkan cara memilahnya, bawalah kotak- kotak kecil ke pasar untuk wadah belanjaan”. Yaaaa dulu aku pikir repot kalau harus begitu karena akan banyak sekali kotak yang diperlukan, tetapi setelah sedihku berlarut – larut tak berujung melihat plastik bau bekas ikan *lebaay, akupun akhirnya mencoba untuk membawa wadah- wadah belanjaan ke pasar, dan hari ini sepulangnya dari pasar senyumku lebaaaaarrr sekali karena benar- benar tidak ada sampah sisa bungkusan belanjaanku.

IMG_2547.JPG
Terima kasih shanty untuk sarannya, yuk teman- teman kita kurangi sampah di setiap kegiatan yang kita lakukan pasti bumi pun tersenyum lebar karena tak harus menanggung banyak sampah yang bisa merusak lingkungan.

IMG_2552.JPG