Perjalanan Zero Complaint ( Amazing Java Bali Roadtrip )

Di awal perjalanan kami berdiskusi sekeluarga, kami sama-sama sepakat bahwa apapun yang terjadi di petualangan kali ini maka kami harus menikmatinya dan mengambil hikmah sebagai pengalaman yang kaya. Kami sengaja naik kereta ekonomi ac tawang jaya selain karena kami berempat bisa memilih kursi 2-2 dan anak2 bisa tidur gelosoran di bawah sepanjang perjalanan, juga karena tiketnya murah meriah sehingga alokasi dana tiket bisa buat hal lain.

Kami memesan tiket melalui ayah Reza Setyawan karena kebetulan proses pembelian dari aplikasi KAI yang biasa kami pakai agak terganggu jadi kami tidak bisa memesan sendiri. Daaaan ternyataaah sodara-sodara, kami duduk di kursi 3-3 jd tentu saja ini merubah rencana kenyamanan perjalanan ini. #DuoAli langsung cemberut sejenak dan kemudian tersenyum bersama. Yak karena mengusung tema #zerocomplain jadi kami sadar bahwa ini pasti ada hikmahnya. Betul saja, ternyata yang duduk sebangku dengan kami adalah seorang ibu yang menggendong bayi usia 10bulan yg sedang demam, dan ibu tersebut dapat kursi bagian C, yaitu kursi paling ujung dekat lorong bukan kursi pojok, terbayang ibu tersebut pasti akan kelelahan menggendong tanpa senderan semaleman dibawah ac yang dingin pula, akhirnya kami persilahkan si ibu duduk di kursi kami di pojok dan lebih hangat, #Ali8y memutuskan tetap menggelar alas tidur di kolong kursi. Aku mengambil selimut yang cukup dipakai oleh #DuoAli dan bisa membuat mereka tidur nyenyak semalaman.

Tidak terbayang jika si ibu bersama bayinya duduk di bawah ac yg sangat dingin tanpa ada senderan tangan semalaman.. Fiuh.. Dan pengalaman semalam sukses membuatku dan papa Faizal Kamal tidur sehariaaan hari ini karena ga bisa tidur semalam. Hihihi.. Let’s rock kids… Kita bobo nyaman dulu malam ini di semarang untuk energi besok meneruskan perjalanan ke salatiga bertemu dengan #KeluargaSetyawan
Alhamdulillaah.. *shalawat

#KeluargaSetyawan
#KeluargaKamal
#AmazingJavaBaliRoadtrip
#JelajahLangitBiru
#KeluargaMandiri
#Travelschooling
#Homeschooler
#KangenAmazingTeam

Star Party dan Ulang Tahun HAAJ 2016

Empat tahun yang lalu, adalah star party pertamanya, dengan “perlengkapan perang” lengkap aku menemaninya berselancar di kegelapan malam, belajar mencari planet yang terlihat oleh mata telanjang, sampai berburu saturnus si planet bercincin. Husaynku berlarian kesana kemari, antusias berpindah dari satu teleskop ke teleskop lainnya, sementara aku berselimut tebal di dalam tenda yang kami.

 

Ya, itu empat tahun lalu ketika Husaynku masih berusia 6 tahun, masih harus kami dampingi kemana saja setiap kegiatan yang ia ikuti. Empat tahun yang lalu ketika giginya masih banyak yang ompong, dan suaranya masih melengking tinggi. Hari ini setelah empat tahun berlalu, aku tidak lagi mengantarnya hingga ke lokasi star party, kali ini aku hanya perlu memencet “booking” di aplikasi gojek lalu ia menciumku dan memelukku erat dan kemudian berangkat bersama abang gojek menuju planetarium, untuk kemudian berangkat bersama kakak-kakak himpunan astronomin amatir Jakarta menuju lokasi star party di BALIKLIMAT kota bogor.

husayn

Berbicara tentang passion, aku belum melihat Husayn mencintai astronomi karena ilmu astronominya, tetapi husayn mencintai komunitas astronomi itu sendiri, yang terdiri dari banyak kakak-kakak yang baik hati, mau membuka diri bagi anak-anak seperti husayn, Husayn bukan hanya diterima di komunitas yang luar biasa ini tetapi dirangkul layaknya adik kecil diantara kakak-kakak. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan komunitas yang luar biasa ini.

 

Selesai acara star party Husayn menghubungiku melalui whatsap, bahwa rombongan akan kembali ke Planetarium Jakarta dan akupun bersiap untuk memesankan om gojek untuknya, sepulangnya dari sana, ia pun bercerita bahwa ia bahagia karena bisa ikut star party dan mendapat kejutan karena Husayn mendapatkan potongan tumpeng pertama ketika syukuran ulang tahun himpunan Astronomi Amatir Jakarta yang ke 33. Yaiyy alhamdulillaah.. banyak pengalaman dan banyak kebahagiaan ya nak. selamat ulang tahun HAAJ, terima kasih karena telah menjadi salahsatu “sekolah” kehidupan Husayn..

 

Husayn Presentasi di Pertemuan Rutin Komunitas Astronomi

Hari sabtu kemarin merupakan hari yang membuat Husayn dag dig dug, karena kemarin Husayn diberikan tugas untuk memberikan materi presentasi di depan orang banyak, pada pertemuan rutin komunitas astronomi yang husayn ikuti. sudah setahun ini Husayn menjadi anggota di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta ( HAAJ ), pertemuan rutin dilakukan di kantor Planetarium, Taman Ismail Marzuki, cikini, jakarta pusat. kegiatan di pertemuan rutin dwi mingguan biasanya diawali dengan presentasi dari pembicara, dilanjutkan dengan tanya jawab, lalu diskusi, dan jika langit cerah diadakan pengamatan dari atap planetarium menggunakan teropong milik planetarium/ HAAJ.

Sebagai orangtua homeschooler  aku selalu berusaha mencari komunitas-komunitas yang dapat diikuti oleh Husayn dan Ali, hal itu kulakukan dengan alasan bahwa berkomunitas merupakan salahsatu cara terbaik untuk menimba ilmu dan bersosialisasi. bertemu dengan HAAJ merupakan hal yang sangat berharga untuk kami, karena para pengurus dan anggota di HAAJ sangat welcome dengan kehadiran husayn dan beberapa teman homeschooler yang notabene masih unyu, cerewet, juga berisik, tetapi karena mereka ada disana berdasarkan passion maka setiap hal yang dilakukan menjadi terasa hangat, sehingga anak-anak nyaman berada disana dan para kakak juga menjadi partner serta guru yang hebat untuk Husayn dan Ali.

Saat Husayn bilang kepadaku bahwa ia akan mempersiapkan sebuah slide untuk dipresentasikan pada pertemuan rutin selanjutnya, aku agak kaget bercampur bahagia, karena husayn diberikan kesempatan untuk unjuk diri dan dilibatkan didalam kegiatan yang diikuti oleh sebagian besar usia remaja dan dewasa, Husayn pun kulihat sangat antusias, karena merasa dilibatkan dan tidak hanya dianggap sebagai “anak bawang”.

Dalam mengerjakan proyek ini Husayn didampingi oleh papanya sebagai partner yang membantu menemani setiap proses belajarnya, diawali dengan mencari materi bersama, lalu menyusun power point bersama, kemudian papanya juga menjadi komentator saat husayn latihan presentasi, proses ini sangat mengharukan buatku, terasa sekali dua orang yang kucintai ini ada didalam kerjasama yang penuh cinta. semua proses dilalui dengan sangat mengasyikan, tidak ada keluhan sedikitpun dari husayn walau aku tau ini bukan proses yang mudah bagi anak usia 8 tahun untuk mengerjakannya.

Akhirnya saat yang dinanti tiba, sabtu kemarin cuaca hujan dari malam sebelumnya, sehingga suasana agak membuat orang ingin ada di dalam selimut saja di akhir pekan, dan Husayn pun berpikir peserta yang akan datang akan sedikit jadi agak menenangkan hatinya, karena akan ditonton oleh sedikit orang, ternyata jeng jeng jeng pas kami sampai disana, kelas sudah mulai penuh oleh peserta, kebetulan ada siswa SMA di bogor yang datang serombongan menggunakan Bis, dan kulihat Husaynpun mulai grogi, tapi aku dan papanya hanya tersenyum menguatkan hatinya tanpa memberikan wejangan macam-macam.

Saat pemateri pertama selesai melakukan presentasi, selanjutnya nama Husayn dipanggil, kulihat dengan santainya ia maju ke depan, ketika tau bahwa pemateri selanjutnya adalah Husayn, homeschooler berusia 8 tahun kulihat beberapa peserta tersenyum, dan presentasipun dimulai. alhamdulillah presentasi berjalan lancar, lucunya setelah acara selesai ternyata banyaak sekali kakak-kakak yang meminta foto bareng dengan Husayn, sambil senyum manis Husaynpun dengan senang hati memenuhi permintaan tersebut.

Terima kasih kak Ami dan seluruh kakak di Himpunan astronomi Amatir Jakarta karena telah memberikan kesempatan untuk Husayn di acara tersebut.

 

Belajar Piano Dengan Bahagia

Terkadang kita sebagai orangtua mudah mengadili anak-anak untuk bilang bahwa ia tak berbakat, ia pemalas, tidak konsisten dll, padahal mungkin saat itu adalah proses eksplorasi dirinya. 

Setelah pernah belajar piano 3tahun yang lalu kemudian berganti belajar biola setahun kemudian, sampai mencoba belajar drum, namun akhirnya #Husayn9y kembali meminta belajar piano lagi. 

Menemukan guru terbaik memang tak mudah, setelah mencari info guru piano sampai tempat kursus piano yang paling memungkinkan, alhamdulillaah aku teringat pada sosok pak dosen musik UNJ, komposer sekaligus pianis handal yang pernah berkenalan di kereta jogja-jakarta 3 tahun lalu ketika keluarga kami backpakeran dalam proses #Homeschooling anak-anak, om adit namanya, Dan pagi ini husayn mulai berguru kepada beliau, sepulang belajar ia ngoceh panjang lebar betapa asiknya berpiano, betapa mudah dimengerti semua arahan om adit, dan mulai merancang mimpi dengan pianonya, serunya lagi mulai minggu depan husayn akan berangkat naik sepeda sendiri ke rumah om adit buat belajar piano.

Ahh mama tau nak kamu tak berlebihan karena mama melihat binar mata bulat dan senyum lebar itu sama ketika kamu bercerita tentang basket. Alhamdulillaah terima kasih karena dipertemukan dengan guru-guru yang dengan baik membangun bonding. 

Sebenarnya mudah sekali melihat parameter kesuksesan dari suatu proses belajar, Kalo kata bu lala dan pak siddiq lagunya gini “lihatlah wajah dan mata mereka, belajar dengan bahagiaaaaaa”..


  

Zero Waste Itu Candu

“Bu, repot ya bawa kotak banyak ? Ibu melakukan ini untuk apa ?” | “untuk bumi ALLAH” jawabku singkat, lalu beliau bilang lagi, “apa nanti difoto buat di upload ?” | “nggak, karena dulu udah pernah”. Dan beliaupun tersenyum maniisss sekali, isyarat matanya seakan bertanya “kita beneran melakukan ini buat anak cucu cicit dan karena ALLAH SWT kan ?”.

Beberapa bulan ini memang sepertinya SANG MAHA memang sedang menuntun keluarga kami untuk lebih sadar kalau bumiNYA ini dititipkan kepada kami dan kami harus menjaganya. Alhamdulillaah kalau dijalani perlahan tanpa beban insya allah bisa konsisten.

Maaf ya sayangku akhirnya ternyata aku harus kembali memposting gambar kotak-kotak belanja kia pagi ini, bukan untuk mengintimidasi hanya ingin memberitahu kepada dunia bahwa “Belanja TANPA SAMPAH itu CANDU” nggak percaya ? Cobain deh yukk kita bareng-bareng menikmati Kecanduan ini.

Jumlah Bukan Ukuran Kebenaran

“Mamaaa… siapa tuh nama anak yang ngumpetin sandal di film hafalan shalat delisa ?, siapa ya hmm duh Husayn lupa nih.” Beberapa menit kemudian “yhaaa husayn inget, umar namanya umar”. Tak lama kemudian aku dan ali menjawab hampir bersamaan “umam bang bukan umar”, lalu ali juga menimpali “iya baang umam namanya, umam”. Lalu papa Faizal ikutan nyambung, “mama dan ali bilang namanya umam, siapa yang terbanyak biasanya yang benar”, tetapi kemudian papa faizal meralatnya “eh yang paling banyak belum tentu yang paling benar kok bang, kita juga harus mengeceknya, mempelajarinya agar benar-benar terbukti yang mana yang benar”. Dan obrolanpun berganti topik menjadi pembahasan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, untuk terus belajar dan kritis dalam setiap situasi.

Menurut kami isu mayoritas dan minoritas menjadi sangat penting untuk dibahas, selama ini sepertinya kita digiring kepada opini bahwa yang mayoritas adalah yang paling benar, karena didukung oleh banyak orang, sehingga minoritas dianggap sebagai kelompok “pemberontak” yang tak patuh kepada suara terbanyak. Aku menyadari bahwa memang benar suara terbanyak kadang dianggap pemenang tetapi sesungguhnya tak selamanya hukum itu berlaku.

Bersikap kritis adalah salahsatu sikap yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, kami menyampaikan kepada Duo Ali bahwa menjadi berbeda bukanlah aib, menjadi berbeda dengan ilmu adalah sikap ksatria, dan menghargai setiap pilihan orang lain adalah wajib. Kita harus memperjuangkan kebenaran walau jumlah kita hanya sedikit bahkan sendiri, dan satu-satunya “teman” dalam mencari kebenaran adalah Belajar, ya BELAJAR…

Di akhir obrolan panjang lebar tentang memperjuangkan kebenaran di tengah keluarga kecil kami ini, Ali berbisik di telingaku “mah, jadi sampai kapan kita harus belajar ?”, sambil mencium bibir mungilnya akupun tersenyum menjawab “sampai mati nak, sampai akhir hayat, sampai kita menutup mata untuk selamanya.” Sambil memperlihatkan gigi ompongnya Ali kecilku menimpali “Ali sayang mama sampai selamanya, selama-lamanya” *nyessss hatiku kok jadi adem banget ya.

Selamat belajar dalam kebahagiaan Ya nak, Iqro.. iqro.. Iqro.. *shalawat

IMG_2534-0.JPG

Kurangi Sampah, Selamatkan Bumi

Cerita keluarga kecil kami pagi ini dimulai dengan pergi ke pasar bersama. setelah shalat subuh aku, papa faizal, ali dan husayn bersiap untuk jalan pagi menuju pasar tradisional. Di saat keluarga lain sibuk dengan seragam kerja dan seragam sekolah, kami berempat (yang belum mandi ini) pun sibuukk buat siap-siap ke pasar.

IMG_2549.JPG
Biasanya kalau ke pasar aku hanya membawa tas besar untuk dimasukkan barang belanjaan, dan setelah pulang dari pasar ketika aku membersihkan sayuran, daging, ikan dll selalu terselip rasa bersalah, karena sampah plastik sisa bungkusan belanjaan banyak sekali dan tentu saja tidak bisa dipilah dan disimpan karena biasanya plastik-plastik tersebut berbau tak sedap.

Beberapa kali aku ngobrol dengan sahabatku shanty (salahsatu praktisi homeschool juga) bagaimana cara memilah sampah, pasti jawaban pertamanya adalah “lebih baik kurangi sampahnya, tak perlu susah dulu memikirkan cara memilahnya, bawalah kotak- kotak kecil ke pasar untuk wadah belanjaan”. Yaaaa dulu aku pikir repot kalau harus begitu karena akan banyak sekali kotak yang diperlukan, tetapi setelah sedihku berlarut – larut tak berujung melihat plastik bau bekas ikan *lebaay, akupun akhirnya mencoba untuk membawa wadah- wadah belanjaan ke pasar, dan hari ini sepulangnya dari pasar senyumku lebaaaaarrr sekali karena benar- benar tidak ada sampah sisa bungkusan belanjaanku.

IMG_2547.JPG
Terima kasih shanty untuk sarannya, yuk teman- teman kita kurangi sampah di setiap kegiatan yang kita lakukan pasti bumi pun tersenyum lebar karena tak harus menanggung banyak sampah yang bisa merusak lingkungan.

IMG_2552.JPG

Resep Donat Kampung Empuk ala Duo Ali

Cemal-cemil adalah salahsatu kebiasaan Husayn dan Ali di rumah, termasuk kesukaan papanya juga. walaupun di depan rumah kami ada warung yang cukup lengkap, tetapi anak-anak jarang sekali meminta uang untuk jajan, aku dan mas faizal tidak pernah melarang anak-anak untuk jajan, kami hanya memberi tahu tentang makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi, dan anak-anakpun mengerti dengan sendiri.

Salahsatu cemilan yang anak-anak suka adalah donat, baik donat kentang, donat ala jco atau donat kampung sekalipun, dan keterampilan penting untuk duo ali adalah membuat cemilannya sendiri termasuk membuat donat, daaan inilah resep donat kampung empuuukk ala duo ali :

Resep Donat Kampung ala Duo Ali

500 gram tepung terigu protein tinggi atau protein sedang (tergantung persediaan)
100 gram gula pasir
1 sachet / 11gr ragi instant
1 butir telur
=/- 200gr air matang/air es
sedikit garam
50gr/1 SDM margarine

cara membuat :
masukkan terigu, gula dan ragi instant, diaduk hingga rata, lalu masukkan telur utuh dan air, uleni hingga menggumpal, lalu terakhir masukkan garam dan margarie, uleni hingga kalis elastis.
setelah kalis elastis, buat bulatan kecil (kalau aku sekitar 25-30gram), diamkan 10 menit, lalu bolongi tengahnya (ini pekerjaan favorit duo ali), setelah selesai di lubangi lalu diamkan hingga adonan menggendut.
donat kampung siap digoreng dengan api kecil.

Kami biasanya menggoreng semua adonan donat, lalu kami simpan di wadah kedap udara, dan kami simpan di freezer, kalau mau dimakan tinggal ambil secukupnya kemudian dihangatkan lg di penggorengan, atau tak perlu digoreng lagi, hanya di thawing aja si donat kampung sudah kembali empukk.. hmm nyam nyam nyaam.. yukk kita bikin cemilan sendiri, pasti lebih berkah karena terdapat banyak cinta di dalamnya..

salam donat ^_^IMG_2519.JPG

Dunia itu Kejam nak…

Sering sekali aku mendengar kalimat seperti judul di atas. “dunia itu kejam”, “dunia itu keras” , dan kalimat-kalimat yang megandung artian negatif lainnya. hal tersebut juga menjadi isu yang sangat kencang sebagai kritikan kepada para orangtua homeschooler, orangtua dianggap tidak menunjukkan keadaan dunia yang sebenarnya karena cenderung memberikan yang “bahagia-bahagia” saja kepada anak-anak, pergaulan yang “tidak sehat” karena minim bullying.

Sebagai orang yang lebih suka berpikir positif, aku tak setuju dengan generalisasi keadaan seperti kalimat tersebut. memang ada hal-hal kejam dan keras di dunia ini, tetapi tidak dengan begitu dunia menjadi kejam dan keras bukan ?. aku sangat percaya “teko mengeluarkan isi teko”, “cermin memantulkan yang ada dihadapan cermin” maka ketika kita mendengung-dengungkan bahwa dunia itu kejam maka biasanya apapun hal yang datang kepadanya juga (dipandang) kejam. mengapa aku memberikan tanda kurung di kata-kata “dipandang” diatas ? karena sebenarnya mungkin saja keadaan yang datang tak sekejam itu tetapi karena sang otak sudah selalu berpikir tentang kejam maka sang kejamlah yang ada dihadapannya.

homeschooler

Aku dan suamiku tercinta selalu memberikan pandangan yang baik kepada anak-anak, kami yakinkan kepada mereka bahwa dunia itu penuh dengan kelembutan, ALLAAH SWT menciptakan dunia ini begitu indah, kami yakin jika kami baik maka yang datangpun akan baik. ” aku baik, kamu baik”. aku juga tak menutup mata jika di dunia ini juga ada hal-hal keras, kita hanya perlu waspada dengan kekerasan bukan berarti dengan adanya satu kekerasan menutup pikiran baik kita.

Aku tak bisa membayangkan jika semua anak diberikan pandangan bahwa dunia itu keras dan kejam, apa jadinya dunia ini beberapa tahun lagi ? pasti diisi oleh “jagoan-jagoan” yang menganggap dirinya paling benar dan yang lainnya adalah musuh. sebagai pengikut rasulullah Muhammad SAW aku ingin anak-anakku meneladani beliau, manusia yang penuh kelembutan. suatu ketika aku pernah ditanya ” jika rasulullah yang harus diteladani sangat penuh kelembutan, mengapa banyak orang yang mengaku meneladaninya malah bersikap kebalikannya ?”, entahlah nak… pesanku “apapun yang datang kepadamu, keluarkanlah segala kebaikan yang kamu punya nak”.. Aku baik kamu baik maka dunia akan baik ^_^

Disiplin dan Homeschooling

Suasana disebelah rumah yang terdengar pada pukul 05.30, “Adeeee,,, bangun, udah jam 6” lalu “kakak, cepeett lama banget mandinya, ade belum mandi, tau diri dong kalo mau lama-lama mandi sore aja, jangan pagi-pagi, kalo perlu basahin badan, sabunan, sikat gigi, udah (lanjut ocehan omelan menggema)” lanjut “kliping yang semalaem dikerjain mana, cepet habisin rotinya (omelan ke si anak tengah)”.

Suasana di rumah ini pukul 04.45, “abang sayang, ali sayang, udah subuh yuk shalat dulu, masih ngantuk ya nak ? yuk kita bersyukur dulu masih dikasih kesempatan buat bangun pagi ini, alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihin nusyuur” lalu berlanjut shalat subuh berjama’ah, berdoa, ngobrol dan bercanda sebentar, lanjut jalan pagi/bersepeda.

homeschooling-jakarta

Dua suasana yang berbeda, yang aku yakin anak-anak lebih memilih untuk berada di rumah ini. memang tidak selalu lancar prosesku membangunkan anak-anak, kadang ali merengek bahkan husayn menggerutu, tetapi setelah mereka mencuci muka dan berwudhu pasti wajah mereka sumringah lagi, aku memaklumi anak usia 8 dan 5 tahun memang tak selalu mudah dibangunkan di kala subuh, apalagi setelah sehari sebelumnya mereka beraktivitas berat atau tertidur terlalu larut, tetapi semua itu selalu kusyukuri, dan kuanggap sebagai proses belajar bagiku dan anak-anak.

Salahsatu hal yang sering diperdebatkan oleh kerabat atau teman yang memprotes tentang homeschooling kami adalah soal KEDISPLINAN. ketika hal tersebut ditanyakan kepada kami kadang kami hanya bisa menjawabnya dengan senyum, karena sudah lelah mengulang cerita yang sama atau obrolan yang sama, kami juga merasa terkesan membela diri jika terlalu menanggapi diskusi yang tak berujung.

Suatu hari Husayn 8y pernah bertanya kepadaku “mama, kenapa **** selalu dimarahi kalo terlambat bangun, dia dimarahi karena takut terlambat sekolah, tp dibiarkan saja kalo ga shalat subuh, memang lebih penting sekolah ya ma daripada shalat ?” aku hanya bisa tersenyum menjawabnya, namun diakhiri dengan diskusi panjang mengenai kedisiplinan bersama Husayn. aku percaya kedisiplinan bukan karena seseorang bersekolah atau homeschooling, tetapi kedisiplinan bergantung kepada individu masing-masing dan tentu saja karakter keluarga yang dibangun, maka apakah teman-teman masih belum yakin bahwa homeschooler juga bisa disiplin ?

salam cinta

Mella ^__^