Kurangi Sampah, Selamatkan Bumi

Cerita keluarga kecil kami pagi ini dimulai dengan pergi ke pasar bersama. setelah shalat subuh aku, papa faizal, ali dan husayn bersiap untuk jalan pagi menuju pasar tradisional. Di saat keluarga lain sibuk dengan seragam kerja dan seragam sekolah, kami berempat (yang belum mandi ini) pun sibuukk buat siap-siap ke pasar.

IMG_2549.JPG
Biasanya kalau ke pasar aku hanya membawa tas besar untuk dimasukkan barang belanjaan, dan setelah pulang dari pasar ketika aku membersihkan sayuran, daging, ikan dll selalu terselip rasa bersalah, karena sampah plastik sisa bungkusan belanjaan banyak sekali dan tentu saja tidak bisa dipilah dan disimpan karena biasanya plastik-plastik tersebut berbau tak sedap.

Beberapa kali aku ngobrol dengan sahabatku shanty (salahsatu praktisi homeschool juga) bagaimana cara memilah sampah, pasti jawaban pertamanya adalah “lebih baik kurangi sampahnya, tak perlu susah dulu memikirkan cara memilahnya, bawalah kotak- kotak kecil ke pasar untuk wadah belanjaan”. Yaaaa dulu aku pikir repot kalau harus begitu karena akan banyak sekali kotak yang diperlukan, tetapi setelah sedihku berlarut – larut tak berujung melihat plastik bau bekas ikan *lebaay, akupun akhirnya mencoba untuk membawa wadah- wadah belanjaan ke pasar, dan hari ini sepulangnya dari pasar senyumku lebaaaaarrr sekali karena benar- benar tidak ada sampah sisa bungkusan belanjaanku.

IMG_2547.JPG
Terima kasih shanty untuk sarannya, yuk teman- teman kita kurangi sampah di setiap kegiatan yang kita lakukan pasti bumi pun tersenyum lebar karena tak harus menanggung banyak sampah yang bisa merusak lingkungan.

IMG_2552.JPG

Resep Donat Kampung Empuk ala Duo Ali

Cemal-cemil adalah salahsatu kebiasaan Husayn dan Ali di rumah, termasuk kesukaan papanya juga. walaupun di depan rumah kami ada warung yang cukup lengkap, tetapi anak-anak jarang sekali meminta uang untuk jajan, aku dan mas faizal tidak pernah melarang anak-anak untuk jajan, kami hanya memberi tahu tentang makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi, dan anak-anakpun mengerti dengan sendiri.

Salahsatu cemilan yang anak-anak suka adalah donat, baik donat kentang, donat ala jco atau donat kampung sekalipun, dan keterampilan penting untuk duo ali adalah membuat cemilannya sendiri termasuk membuat donat, daaan inilah resep donat kampung empuuukk ala duo ali :

Resep Donat Kampung ala Duo Ali

500 gram tepung terigu protein tinggi atau protein sedang (tergantung persediaan)
100 gram gula pasir
1 sachet / 11gr ragi instant
1 butir telur
=/- 200gr air matang/air es
sedikit garam
50gr/1 SDM margarine

cara membuat :
masukkan terigu, gula dan ragi instant, diaduk hingga rata, lalu masukkan telur utuh dan air, uleni hingga menggumpal, lalu terakhir masukkan garam dan margarie, uleni hingga kalis elastis.
setelah kalis elastis, buat bulatan kecil (kalau aku sekitar 25-30gram), diamkan 10 menit, lalu bolongi tengahnya (ini pekerjaan favorit duo ali), setelah selesai di lubangi lalu diamkan hingga adonan menggendut.
donat kampung siap digoreng dengan api kecil.

Kami biasanya menggoreng semua adonan donat, lalu kami simpan di wadah kedap udara, dan kami simpan di freezer, kalau mau dimakan tinggal ambil secukupnya kemudian dihangatkan lg di penggorengan, atau tak perlu digoreng lagi, hanya di thawing aja si donat kampung sudah kembali empukk.. hmm nyam nyam nyaam.. yukk kita bikin cemilan sendiri, pasti lebih berkah karena terdapat banyak cinta di dalamnya..

salam donat ^_^IMG_2519.JPG

Tetaplah Menjejak Bumi nak…

Tetap menjejak bumi, adalah salahsatu hal yang sering aku bicarakan bersama para sahabatku sesama homeschooler, aku lala dan wiwiet sering sekali membahas tentang pentingnya anak-anak kita untuk tetap “menjejak bumi”, ketika suatu hari nanti anak-anak kita menjadi “seseorang”. maksudnya adalah, anak-anak harus bisa melihat ke bawah, mereka sangat boleh berfikir dan melakukan langkah yang revolusioner tetapi mereka juga harus tetap melihat “ke bawah” untuk menjadi bahan pertimbangan.

Sudah sewajarnya jika setiap keluarga homeschool memiliki jalan yang berbeda-beda walau memiliki tujuan yang sama, untuk keluarga kami, salahsatu bahan belajar anak-anak untuk tetap menjejak bumi adalah mengenal seluruh lapisan masyarakat, keragaman bangsa ini, strata sosial yang berbeda, hingga anak-anak tidak merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar, paling unik dan paling-paling lainnya, anak-anak harus mengerti bahwa “kita” lebih penting dibanding “aku”. dan pucuk dicinta ulampun tiba ketika bude, pakde dan anaknya akan pulang kampung ke purwokerto, husayn tiba-tiba menyatakan niatnya untuk ikut pulang kampung. tanpa ragu-ragu akupun meng iyakan permintaannya, aku dan suami mempercayai keluarga bude nur ini karena mereka sekeluarga telah tinggal dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga kami lebih dari 20 tahun, jadi sudah seperti saudara sendiri.

petualangan husayn

Ketika aku membolehkan husayn (8tahun) untuk ikut, ia pun bersorak dan mulai repot mempersiapkan perlengkapannya, aku ingin perjalanan Husayn berlangsung se-alami mungkin, tak ada keistimewaan karena ia ikut, diawali dengan membeli tiket kereta ekonomi seharga Rp.40.000 seperti yang biasa keluarga bude lakukan. hingga ketika berangkat jam 4 subuh menuju stasiun pun mereka berangkat menggunakan bajaj tidak aku antar, aku ingin husayn merasakan perjalanan keluarga bude yang sesungguhnya, bukan perjalanan yang aku disain khusus untuknya. sebelum berangkat aku hanya berpesan ” Husayn, selalu berdoa dan bershalawat di setiap langkah husayn, dijaga shalatnya, tetap bersama bude, pakde dan kaka lila selama pergi ya,  sampaikan salam mama sambil husayn pijitin mbah (ibunya bude), dengarkan teman-teman husayn waktu mereka bercerita lalu cerita dan berbagi ilmu yang Husayn punya kepada teman-teman disana.” pesan itu aku utarakan sambil kupeluk Husayn tepat dipintu bajaj, dan Husaynpun mengangguk sambil tersenyum.

Jujur saja, sebagai seorang ibu sebenarnya ada rasa khawatir didalam diriku tetapi kepercayaanku kepada keluarga bude dan Husayn dan tentu saja kepercayaanku akan kekuatan doa mengalahkan rasa khawatir ini. selama Husayn pergi kurang lebih seminggu, aku tak banyak menelepon Husayn, aku membawakan Blackberry (BB)  bekas pakaiku kepada Husayn dengan tujuan untuk berkomunikasi dan kamera selama ia disana, jadi aku bisa memantau Husayn dari status-status yang ia buat, dan aku sangat lega membaca ceritanya dan melihat status-status serta foto-foto di bb Husayn. suatu ketika ketika kami bertelepon husayn bilang “mama maaf kalau Husayn jarang bbm dan telepon, itu bukan karena Husayn nggak kangen mama tapi mungkin karena Husayn lagi sibuk disini” :)” oya  husayn menceritakan perjalanannya selama di purwokerto di blog Husayn disini.

homeschooling

Ketika saat pulang tiba, Husayn banyaak sekali bercerita, tentang rumah bude, si mbah, permainan di kampung, hewan-hewan, sungai, bahasa daerah dan tentu saja teman-teman baru. aku terharu mendengar cerita bude tentang Husayn selama disana, semua teman mencintai Husayn, komentar dari tetangga di kampung dan saudara-saudara di kampung juga membuatku ingin meneteskan air mata, bude bercerita bahwa selama disana Husayn jadi anak yang sangat santun, selalu mencium tangan setiap orangtua, tidak jijik dan merasa “orang kota”, nyenyak tidur dan tak rewel makan dengan keadaan yang terbatas di kampung, tidak meninggalkan shalat, teman-teman di kampung bahkan ada yang meneteskan air mata saat Husayn kembali ke jakarta. Husayn selalu mudah berbaur dengan siapa saja, berbagi cerita tentang kota dan ilmunya kepada teman-temannya ( ia melaksanakan pesanku ).

husayn homeschooling

homeschoolers journey

Alam adalah sekolahmu nak, Kehidupan nyata adalah Ujianmu, tetap istiqomah dalam menjalani setiap detik pembelajaran dalam hidupmu ya nak. aku.. mamamu… tetap akan merengkuhmu dalam cinta untuk setiap proses yang kau lalui…

salam cinta…

 

Dunia itu Kejam nak…

Sering sekali aku mendengar kalimat seperti judul di atas. “dunia itu kejam”, “dunia itu keras” , dan kalimat-kalimat yang megandung artian negatif lainnya. hal tersebut juga menjadi isu yang sangat kencang sebagai kritikan kepada para orangtua homeschooler, orangtua dianggap tidak menunjukkan keadaan dunia yang sebenarnya karena cenderung memberikan yang “bahagia-bahagia” saja kepada anak-anak, pergaulan yang “tidak sehat” karena minim bullying.

Sebagai orang yang lebih suka berpikir positif, aku tak setuju dengan generalisasi keadaan seperti kalimat tersebut. memang ada hal-hal kejam dan keras di dunia ini, tetapi tidak dengan begitu dunia menjadi kejam dan keras bukan ?. aku sangat percaya “teko mengeluarkan isi teko”, “cermin memantulkan yang ada dihadapan cermin” maka ketika kita mendengung-dengungkan bahwa dunia itu kejam maka biasanya apapun hal yang datang kepadanya juga (dipandang) kejam. mengapa aku memberikan tanda kurung di kata-kata “dipandang” diatas ? karena sebenarnya mungkin saja keadaan yang datang tak sekejam itu tetapi karena sang otak sudah selalu berpikir tentang kejam maka sang kejamlah yang ada dihadapannya.

homeschooler

Aku dan suamiku tercinta selalu memberikan pandangan yang baik kepada anak-anak, kami yakinkan kepada mereka bahwa dunia itu penuh dengan kelembutan, ALLAAH SWT menciptakan dunia ini begitu indah, kami yakin jika kami baik maka yang datangpun akan baik. ” aku baik, kamu baik”. aku juga tak menutup mata jika di dunia ini juga ada hal-hal keras, kita hanya perlu waspada dengan kekerasan bukan berarti dengan adanya satu kekerasan menutup pikiran baik kita.

Aku tak bisa membayangkan jika semua anak diberikan pandangan bahwa dunia itu keras dan kejam, apa jadinya dunia ini beberapa tahun lagi ? pasti diisi oleh “jagoan-jagoan” yang menganggap dirinya paling benar dan yang lainnya adalah musuh. sebagai pengikut rasulullah Muhammad SAW aku ingin anak-anakku meneladani beliau, manusia yang penuh kelembutan. suatu ketika aku pernah ditanya ” jika rasulullah yang harus diteladani sangat penuh kelembutan, mengapa banyak orang yang mengaku meneladaninya malah bersikap kebalikannya ?”, entahlah nak… pesanku “apapun yang datang kepadamu, keluarkanlah segala kebaikan yang kamu punya nak”.. Aku baik kamu baik maka dunia akan baik ^_^

Homeschooling dan (lagi) Sosialisasi

“mama kita perlu samperin kakek yang terakhir komentar itu, mesti dikasih tau kalo anak homeschool itu sangat banyak teman sebayanya, kasian dia salah paham ” itulah komentar husayn setelah menyaksikan liputan tentang keluarga kami di NET TV. dan lagi-lagi isu ini yang memang paling cocok dicari sisi negatifnya, saya melihat si bapak pakar pendidikan itu juga “males-malesan” membicarakan tentang sisi positif homeschooling “yaa, mereka bisa belajar semaunya, mungkin kalo bisa dibilang sisi positifnya, mungkin itu positif” kata sang pakar. jadiii sodara-sodara ini masih mungkin looh bukan beneran positif hehehe.

Tapiii… sekarang ini aku sudah tidak lagi mempermasalahkan pandangan orang tentang sisi positif dan negatif metode pendidikan yang keluarga kami jalani sekarang ini, aku lebih fokus kepada eksplorasi bakat minat anak-anak dan hal-hal apa saja yang perlu kami fasilitasi dalam kegiatan yang diminati oleh anak-anak. hanya aku tergelitik mengomentari sang pakar karena ajakan Husayn untuk menemui beliau dan memberitahukan tentang sisi sosialisasi dari sang praktisi (yaitu Husayn) kepada kakek pakar. semoga suatu hari nanti kita dipertemukan ya nak..

Jadi apapun positif dan negatifnya hal yang terpenting buatku adalah keluarga kami menikmati proses belajar ini.. yuuk nonton rekaman liputannya yaa.. ini diaa :

Disiplin dan Homeschooling

Suasana disebelah rumah yang terdengar pada pukul 05.30, “Adeeee,,, bangun, udah jam 6” lalu “kakak, cepeett lama banget mandinya, ade belum mandi, tau diri dong kalo mau lama-lama mandi sore aja, jangan pagi-pagi, kalo perlu basahin badan, sabunan, sikat gigi, udah (lanjut ocehan omelan menggema)” lanjut “kliping yang semalaem dikerjain mana, cepet habisin rotinya (omelan ke si anak tengah)”.

Suasana di rumah ini pukul 04.45, “abang sayang, ali sayang, udah subuh yuk shalat dulu, masih ngantuk ya nak ? yuk kita bersyukur dulu masih dikasih kesempatan buat bangun pagi ini, alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihin nusyuur” lalu berlanjut shalat subuh berjama’ah, berdoa, ngobrol dan bercanda sebentar, lanjut jalan pagi/bersepeda.

homeschooling-jakarta

Dua suasana yang berbeda, yang aku yakin anak-anak lebih memilih untuk berada di rumah ini. memang tidak selalu lancar prosesku membangunkan anak-anak, kadang ali merengek bahkan husayn menggerutu, tetapi setelah mereka mencuci muka dan berwudhu pasti wajah mereka sumringah lagi, aku memaklumi anak usia 8 dan 5 tahun memang tak selalu mudah dibangunkan di kala subuh, apalagi setelah sehari sebelumnya mereka beraktivitas berat atau tertidur terlalu larut, tetapi semua itu selalu kusyukuri, dan kuanggap sebagai proses belajar bagiku dan anak-anak.

Salahsatu hal yang sering diperdebatkan oleh kerabat atau teman yang memprotes tentang homeschooling kami adalah soal KEDISPLINAN. ketika hal tersebut ditanyakan kepada kami kadang kami hanya bisa menjawabnya dengan senyum, karena sudah lelah mengulang cerita yang sama atau obrolan yang sama, kami juga merasa terkesan membela diri jika terlalu menanggapi diskusi yang tak berujung.

Suatu hari Husayn 8y pernah bertanya kepadaku “mama, kenapa **** selalu dimarahi kalo terlambat bangun, dia dimarahi karena takut terlambat sekolah, tp dibiarkan saja kalo ga shalat subuh, memang lebih penting sekolah ya ma daripada shalat ?” aku hanya bisa tersenyum menjawabnya, namun diakhiri dengan diskusi panjang mengenai kedisiplinan bersama Husayn. aku percaya kedisiplinan bukan karena seseorang bersekolah atau homeschooling, tetapi kedisiplinan bergantung kepada individu masing-masing dan tentu saja karakter keluarga yang dibangun, maka apakah teman-teman masih belum yakin bahwa homeschooler juga bisa disiplin ?

salam cinta

Mella ^__^

 

 

Akhirnya… Husayn Baca Buku Juga

Yuhuuu… kemarin adalah hari yang mengejutkan untukku, tiba-tiba Husayn membawa satu buku kemana-mana, membukanya, membacanya kemudian ditutup lagi, dilanjutkan dengan kegiatan lain, lalu kembali lagi mengambil buku yang sama, membukanya, membacanya beberapa lembar lalu ditutup lagi, dan begitu seterusnya. bagi orangtua lain mungkin hal yang tidak istimewa melihat anaknya membaca, tetapi bagiku hal tersebut sangat istimewa. baru sekitar tiga minggu lalu ketika acara klub membaca oase di rumah mbak ary, aku curhat ke wiwiet tentang kegelisahanku karena Husayn tidak suka bahkan tidak mau membaca buku apapun, boro-boro buku yang “berat” wong komik yang penuh gambar lucu aja ia enggan membukanya. Husayn lebih suka menonton atau wara-wiri kesana kemari dibanding harus membuka buku. maka ketika hal itu terjadi wah bikin jantungku serasa mau copot.. *lebay hahaha

Ketika melihat Husayn membawa buku dan membukanya kemudian membacanya, pertanyaan yang terlintas adalah, buku apa yang berhasil menarik perhatiannya ? ternyata buku itu adalah buku biografi Sam Brodie, seorang transgender yang menemukan jati dirinya, dari laki-laki menjadi perempuan, kemudian kembali menjadi laki-laki lagi karena jatuh cinta dengan sahabat perempuannya, kemudian sam menjadi mualaf, menikah dan memiliki anak. bukunya berjudul “Samuel, Samantha n’ Me”. ayahanda Sam adalah orang skotlandia dan ibunya orang maluku, sam adalah korban bully di sekolah, korban pedofilia dan korban kekerasan ayahnya *lengkap banget penderitaannya :(, tetapi kemudian sam menjadi selebritis di inggris, beliau peserta big brother UK, dan berteman dengan para seleb sekelas paris hilton, namun sam akhirnya kembali ke Indonesia dan menemukan jatidirinya di sini, sam akan diundang oprah di bulan april nanti.

homeschooler

Kebetulan yang menulis biografinya adalah salahsatu guruku, yaitu bunda sofie beatrix, dan kami diundang di acara launching buku tersebut, sepertinya Husayn terkesan dengan perjalanan hidup sam brodie, Husayn bilang kalau ia sangat suka sejarah, dan Husayn suka true story makanya husayn suka bukanya om sam :). tadinya aku agak ngeri juga, apa buku ini sudah layak dibaca oleh anak seusia Husayn ? tetapi ternyata sam dan bunda sofie sangat baik menyusun buku ini, tidak ada bahasa yang vulgar, namun tidak menghilangkan nilai-nilai yang ingin disampaikan dari buku tersebut jadi menurutku buku ini lulus sensor untuk dibaca oleh Husayn, walau akhirnya Husayn banyak bertanya arti dari kata-kata yang tidak ia mengerti, dan aku sudah siap disampingnya untuk menjawab pertanyaan beliau :)

Melihat kenyataan ini kok aku malu ya ?, katanya unschooling, katanya terbuka, katanya percaya pada kemampuan anak-anak, tetapi kok masih aja suka membandingkan anak-anak dengan anak lain yang sudah jelas-jelas beda karakternya, beda kebiasaannya, beda lingkungannya.. ah nak maafin mama ya.. kita sama-sama belajar ya, untuk mencapai visi dan misi keluarga kita ini. mama love Husayn pokoknyah.. hehe..

ohya.. kebetulan kami punya 2 bukunya @Sam_brodie yang sudah ditanda tangani, dan Husayn akan menghibahkan satu buku tersebut kepada orang yang pertama komen di blognya dia yang bercerita tentang buku tersebut, ayoo nanti kalo husayn udah selesai cerita tentang buku tersebut, teman-teman silahkan komen yaa.. blog Husayn ada di www.CeritaHusayn.Blogspot.com ^_^

Semangat Qurban Duo Ali

Bulan dzulhijah telah tiba, saatnya umat muslim menyambut datangnya Idul Adha di tanggal 10 Dzulhijah nanti, begitupun dengan keluarga kami, kami mulai bersiap dan berencana akan kegiatan yang kami lakukan di hari idul adha nanti, kebetulan tahun ini kami akan merayakannya di Jakarta, tidak seperti tahun sebelumnya kami merayakannya di Kota Sukabumi, kampung halaman ayahku. walau kami berencana melaksanakan shalat Idul Adha di Jakarta tetapi rencananya kami tetap akan memberikan hewan kurban ke Sukabumi, dengan alasan bahwa orang kampung sekitar rumah disana masih banyak yang lebih memerlukan daging, daripada di Jakarta ini. tingkat perekenomian disini lebih baik daripada di sana.

Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati ini, dengan sangat kebetulan keuangan di keluarga kecil kami ini alhamdulillah lagi cukup untuk sehari-hari saja, belum cukup untuk membeli 4 ekor hewan kurban seperti yang kami rencanakan, ketika hal ini aku sampaikan kepada Husayn dan Ali ternyata mereka ingin membongkar celengan umroh dan celengan FESPER mereka, padahal aku tau duo Ali sangat berharap banyak dari celengan itu, Husayn dan Ali sangat ingin mengunjungi ka’bah dan ziarah ke makam Rasulullah SAW, dan Duo Ali juga sangat ingin ikutan acara Festival Pendidikan Rumah ( FESPER ) tahun depan di salatiga maka mereka sangat rajin menyisihkan uangnya ke dalam celengan-celengan tersebut. Alasan anak-anak mau membongkar celengan tersebut karena mereka sangat ingin memberikan hewan qurban tersebut atas nama rasulullah saw dan sayidina ali bin abi thalib idola mereka, karena di tahun-tahun sebelumnya anak-anak sudah berkurban atas namanya sendiri.
“Nanti kami mulai menabung lagi untuk umroh dan FESPER ma” kata mereka.

Ketika wacana membongkar celengan disebutkan, sebenarnya aku terkejut, anak-anak seperti tak ada beban ketika harus memberikan seluruh isi celengannya demi untuk memberikan bukti cinta mereka kepada ALLAAH SWT, rasulullah dan keluarganya. Aku tau ini tak seberapa jika dinilai dengan rupiah, tetapi melalui moment ini aku menjadi tau tentang kecintaan Duo Ali kepada Rasulullah dan keluarganya karena Duo Ali memberikan hadiah kurban ini untuk mereka. Subhanallah kami dititipkan anak-anak yang baik seperti kalian nak..

Selamat Idul Adha temen-teman, semoga keridhoan ALLAAH SWT menyertai kita semua..

Husayn Bergabung di Klub Membaca OASE

Membaca adalah salahsatu hobiku sejak kecil, juga jadi hobi pak Faizal, tapi entah mengapa sepertinya hobi kami berdua tidak menurun kepada Husayn dan Ali, mereka suka buku jika aku membacakannya tapi hampir tak pernah berinisiatif sendiri untuk mengambil buku dan membacanya, padahal buku-buku yang kami sediakan di rumah beragam jenisnya. dari mulai aku merasa santai, agak khawatir, sangat khawatir dan kembali ke santai lagi, Husayn masih tetap belum punya inisiatif untuk membaca buku.

Ketika beberapa bulan lalu ada wacana bahwa klub oase akan mengadakan book club, aku merasa senang sekali, karena aku berharap banyak di kegiatan ini, aku berharap Husayn tumbuh keinginannya untuk membaca, tetapi kembali lagi aku harus melapangkan hati untuk tak berharap banyak efek dari kegiatan ini, karena aku takut nantinya aku kecewa atau malah melakukan penekanan terhadap Husayn.

Hingga akhirnya hari rabu kemarin, kami memulai kegiatan itu, klub yg awalnya dinamai Klub Buku berubah menjadi lebih ringan  yaitu Klub Membaca. untuk pertemuan pertama anak-anak diberikan waktu untuk “show and tell”, anak-anak membawa buku favoritenya lalu menceritakan kepada teman-temannya apa keistimewaan buku tersebut sehingga mereka suka membaca buku itu. ketika kami datang ke lokasi klub membaca yang kali ini bertempat di rumah mbak ari di bilangan kayu putih, anak-anak sudah mulai berenang (kebetulan ada kolam renang di rumah mbak ari ), sesi show n’ tell sudah selesai, tanpa basa-basi Husayn dan Ali pun langsung ikutan berenang, bermain bersama teman-temannya, dengan perjanjian bahwa Husayn akan menceritakan tentang buku favoritnya nanti selesai berenang ketika sesi makan siang.

berenang sebelum show n’ tell

Saat sesi makan siang tiba, dibawah pohon mangga yang adem, anak-anak mulai makan dengan potluck yang sudah dibawa masing-masing plus mie goreng dan fuyung hai suguhan tuan rumah, hmm nyumnyum… ditambah segarnya es kelapa yang di bawa oleh ade hady. setelah selesai makan-makan dan minum es kelapa mulailah sesi Husayn dan Aza yang terlambat datang tadi untuk maju ke depan menceritakan tentang buku favorit mereka. Husayn bercerita tentang buku “Si buaya raksasa” yang ditulis oleh Roald Dahl dan diterjemahkan oleh mbak Poppy D. Chusfani. Husayn cerita tentang buku ini karena memang hanya buku ini yang serius pernah ia baca karena lucu katanya.

Husayn Bercerita Tentang Buku Favoritnya

Setelah sesi show n’ tell selesai, kami mulai bertukar buku yang boleh dipinjam oleh masing-masing anggota klub membaca, Husayn memilih buku “Frog n’ Toad are Friends” milik atala, alhamdulillah Husayn suka dan mulai melirik buku-buku yang ada di rumah. aku sangat senang dengan adanya klub ini, bergabung bersama teman-teman seperjuangan yang hebat, bukan hebat karena telah berhasil mendidik anaknya sesuai keinginan mereka tetapi hebat karena mau terus belajar dan saling memberi inspirasi.

Salam Cinta Membaca

*untuk yang mau tau lebih lanjut tentang Klub Oase kunjungi webnya di www.KlubOase.com atau Fans page www.Facebook.com/KegiatanKlubOase yaa ^_^

*foto mengambil dari dokumentasi @KlubOase

Tulisan Pertama Ali

Cerita-cerita yang kutulis selama ini sepertinya kebanyakan cerita tentang Husayn, mungkin itu karena husayn sudah mulai banyak berkegiatan yang agak “serius” hehe sedangkan ali masih lebih banyak ikut-ikutan dan belum berkegiatan sendiri, ali selalu mengikuti kegiatan-kegiatan abangnya, setiap aku tanya, ali sepertinya belum punya keinginan untuk memilih suatu kegiatan yang menurut saya serius. jadilah isi blog ini kebanyakan tentang si abang Husayn, tapi kali ini aku akan bercerita tentang si kecil ali yang mulai terasa lebih “dewasa” setelah usianya menginjak 5 tahun (waaaah aku tak punya balita lagii )

Sudah menjadi kesepakatan tak tertulis bagiku dan suami untuk tidak mengajarkan anak-anak menulis dan membaca dibawah usia 7 tahun, jadi selama ini kami tidak pernah memberitahu secara khusus kepada ali tentang alphabet dan kosa kata, tetapi selama ini ali selalu “belajar” sendiri bersama abangnya untuk mengenal huruf. di rumah kami anak-anak jarang sekali menoton TV, kebetulan monitor TV di rumah kami disambungkan dengan perangkat berbasis android sehingga sering berubah fungsi menjadi monitor untuk browsing internet, salahsatu kegiatan favorite anak-anak adalah berselancar di youtube, mencari tutorial games, film, lagu atau tayangan apapun juga yang ingin diketahui oleh duo ali. maka itu kami menyebut yotube sebagai salahsatu “guru”nya duo ali.

Didalam proses itulah ali ternyata juga belajar alphabet dan kosa kata, ali selalu meminta abangnya untuk memberitahu huruf-huruf yang diperlukan untuk merangkai kata dengan keyboard di kolom “search” di youtube. misalnya ali ingin menonton “tutorial minecraft” maka ali akan meminta abangnya untuk menyebutkan huruf perhuruf untuk ali ketikkan di kolom “search”, awalnya selalu abangnya yang menuliskannya tetapi lama kelamaan si abang mulai terganggu karena setiap ali mau mencari sesuatu maka abangnya yg dicari, karena hal itu maka abangnya kemudian mengajarkan ali untuk mengenal huruf sehingga abangnya hanya akan menyebutkan huruf per huruf dan ali yang mengetikkannya.

Awalnya aku dan suami tidak menganggap hal itu istimewa tetapi ternyata dengan begitu ali mulai mengenal huruf secara alami, tanpa ali merasa disuapi, ali belajar mengenal huruf karena ali butuh, dan hasilnya subhanallaah ali mulai tau huruf dan kata, dan yang membuatku kaget sekarang ali mulai menulis, kemarin ali menulis huruf untuk pertama kalinya, walau tulisannya masih terbalik-balik tetapi aku senang sekali, “better late than early” mulai “bekerja”, dan keinginan kami untuk membentuk anak-anak sebagai pembelajar mandiri mulai terlihat di diri ali.

tulisan pertama ali

tulisan pertama ali

Setiap keluarga memang memiliki visi dan misi masing-masing, juga memiliki gaya yang paling cocok untuk keluarganya masing-masing. dan aku sangat nyaman dengan gaya belajar keluarga kami. jadi inget kata-kata dari Homeschooling Idea’s “education is a journey not a race” maka dikala anak usia 5 tahun lainnya sudah bisa lancar menulis dan membaca justru saat itu ali kecil kami baru memulai perjalanannya dengan rasa bahagia dan mandiri. dan kami juga sangat menikmati perjalanan ini. :)