Husayn Menjadi Duta Peduli Sampah

Sebagai Homeschooler, Husayn dan Ali memiliki banyak waktu untuk belajar dari kehidupan dibanding dari buku dan worksheet. Aku merasa, Husayn dan Ali harus memiliki sesuatu yang dapat mereka bagi manfaatnya untuk orang lain. Setelah kami fikirkan bersama, sepertinya berbicara tentang pengolahan sampah tak akan ada habisnya bagi kita masyarakat Jakarta.

Kami berdiskusi tentang hal apa saja yang bisa dilakukan jika kita mempelajari dan mengetahui ilmu tentang sampah. Lalu kami juga berfikir kira-kira ke mana kami harus “berguru” untuk tau ilmunya tentang pengolahan sampah selain dari internet. Apa yang dapat dilakukan oleh anak seusia Husayn dan Ali untuk kepeduliannya tentang sampah, selain hanya dengan “buang sampah pada tempatnya” ?.

Sebelum mempelajari tentang sampah lebih jauh, sepertinya kami memutuskan untuk mulai memilah sampah, antara sampah organik dan non organik, setelah itu kami memisahkan lagi, sampah non organik yang dapat di daur ulang, lalu dikumpulkan oleh pemulung untuk kemudian dijual ke pengepul dan di daur ulang di pabrik. Alhamdulillah kami mempunyai kenalan seorang ibu pemulung yang sering lewat di depan rumah, dan “rumah”nya tak begitu jauh dari rumah kami.

homeschooling indonesia

Husayn belajar tentang sampah

kurikulum homeschooling

belajar dari lingkungan

Setelah berencana dari kemarin akhirnya pagi tadi kami silaturahmi ke rumah ibu pemulung, sebut saja namanya “ibu ayu” (karena anaknya bernama ayu). Ibu ayu adalah seorang janda beranak 4, anaknya bernama Agus, Fitri ( 14thn), Ayu (11thn), dan Firman (11bulan). Mereka tinggal di lingkungan pemulung di pinggir rel kereta api, Suami ibu ayu meninggal karena sakit, dahulu suaminya berprofesi sebagai penjahit, setelah suaminya meninggal, ibu ayu menjadi pemulung untuk menghidupi anak-anaknya.

belajar dari kehidupan

Duo Ali belajar dari kehidupan

Hari ini Husayn banyak belajar tentang memilah sampah dari beliau, ibu ayu bilang, alangkah bahagianya jika banyak keluarga yang peduli untuk memilah sampah di rumah-rumahnya, sehingga sampah2 non organik dapat dimaksimalkan oleh pemulung, untuk dikumpulkan kemudian dijual lalu di daur ulang oleh pabrik. Setelah kami belajar dari beliau, kami baru tahu bahwa ternyata hampir semua sampah non organik dapat di daur ulang. Kami akan membahasnya di posting lain tentang hal ini.

Kami bersyukur Husayn dan Ali bisa melewati proses belajar di lingkungan yang “tidak biasa”, bahkan Husayn dan Ali merasa memiliki teman baru yaitu anak-anaknya ibu ayu. Mulai hari ini Husayn sudah bertekad untuk menjadi “Duta Peduli Sampah”, jika teman-teman berminat bergabung untuk bermanfaat bagi sesama dan lingkungan, kami akan dengan senang hati menerimanya.. Kami bersyukur menjadi keluarga mandiri karena dengan banyaknya waktu yang kami miliki, kami bisa belajar banyak dari kehidupan… :)

Unschooling = Freedom, we are Free but not Dumb.. :p

@MellaKamal
@IsalKamal
@KeluargaMandiri

Comments

  1. salam kenal,
    Salut dengan cara mba Mella mendidik anak tentang lingkungan, juga tentang topik lainnya. sangat menginspirasi.

    • halo mbak.. hehe alhamdulillah kalau bisa menginspirasi, tapi sebenarnya kami juga banyak terinspirasi dari teman-teman seperti mbak looh.. karena mencari inspirasi wajib hukumnya dalam HS.. hihi..
      aalam hangat buat keluarga yaa..

  2. Mba..saya tertarik gabung , gmn cara nya agar ∂ï kampung tempat tinggalku jg bisa banyak Ƴά‎​πƍ peduli terhadap sampah..

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge