Let Them Decide Their Own Definition of Success

Siang ini saya miris sekali melihat konflik di depan mata saya, ceritanya tentang ” malas sekolah”, “disiplin”, “kerajinan”, dan yang perlu dan tidak perlu. mengapa saya beri tanda kutip kata-kata di atas? karena saya masih ragu apakah memang masalahnya dalam artian kata-kata di atas atau bukan. jadi begini ceritanya :

Saya memiliki adik sepupu yang tinggal bersebelahan dengan rumah saya, seorang perempuan kelas 2 SMP di sekolah favorit, otaknya sangat cemerlang menurut saya, bahasa inggrisnya pintar dan pintar menggambar, adik saya ini sangat pintar bermain game online sampai bisa mendapatkan uang dari lomba game online. tiba-tiba tadi siang wali kelasnya datang ke rumah, melaporkan kepada orangtuanya (om saya) karena si anak sudah tidak masuk sekitar 16 hari, bahkan tidak mengikuti UTS, lalu di kelas tidak memperhatikan kalau diterangkan pelajaran, kerjanya menggambar di kertas kosong (gambarnya bagus), perilaku terhadap guru kurang baik karena cuek.

setelah si anak pulang, kami menanyakan kenapa dia bisa bolos, dia bilang itu karena dia telat masuk sekolah sehingga dianggap bolos, dan akhirnya dia nongkrong di warnet. si anak terancam tidak naik kelas karena sebab di atas.

Entah mengapa saya miris, saya membayangkan adik saya bisa menjadi pelukis komik, atau designer terkenal, penterjemah (karena bahasa inggrisnya pintar) bahkan pembuat program komputer, karena otaknya sangat cemerlang. tetapi sepertinya saat ini seakan-akan masa depannya sudah runtuh akan bayangan tidak naik kelas. seakan-akan dunia menjulurkan lidah ke arahnya karena dia “bodoh”.

Tak terasa menetes air mata ini, saya ingin mengulurkan tangan saya ke arahnya dan membimbingnya menuju masa depan yang sangat cemerlang. tetapi siapa saya? “anak kemarin sore” yang tak tahu apa-apa tentang pendidikan, Indonesia hanya perlu anak-anak sekolah yang ijazahnya bagus. bukan euphoria homeschooling seperti artis jaman sekarang. saya ingin sekali berteriak. “KAMU HEBAT DE …” tapi tak mungkin saya lakukan. Saya seperti melihat di sebuah sekolah hewan, ada burung yang HARUS belajar berenang sementara keahliannya adalah terbang.

Dalam hal ini saya tidak tau harus menyalahkan siapa?.. orangtua si anak (om dan tante saya) sudah merasa berbuat yang terbaik untuk anaknya, menyekolahkan di sekolah terbaik, memperhatikan anaknya. lalu jadi salah siapa ya? salah anaknyakah? yang hobinya menggambar dan mengutak atik komputer? hmm entahlah.. mungkin teman-teman punya saran buat saya tantang solusinya?..

*untuk adikku tercinta, jika dirimu membaca postingan ini, kemarilah de bersama kakak, akan aku bukakan pintu melihat dunia yang indah di matamu kelak, karena KAMU HEBAT hanya pandangan masyarakat tentang ijazah dan sekolah yang membuat kamu terlihat tak berguna…

Comments

  1. aduh sampai ikutan trenyuh banget, betul mbak Mella, tunjukkan bahwa ada banyak jalan menuju Roma. mgk perlu dipertemukan dengan HS-er yg sudah besar/kuliah/kerja?
    maaf kalau komenku tidak membantu

  2. ‎​​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه sahabat!, focus on the solution not the problem
    Sudah bukan waktunya lagi mencari siapa yang salah, yg plng penting jalan keluarnya agar si”hebat” itu bisa kembali bersekolah dengan penanganan yang tepat….. Saya rasa homeschooling bisa jadi wadah yang cukup baik baginya
    Kalaupun masalahnya adalah siapa anda”anak kemaren sore” mungkin bisa mengambil guru homeschooling yg memang sdh pengalaman dan kredible
    Anda pun bisa bermitra sekaligus belajar… Problem berat berikutnya yg akan timbul adalah orangtua yang masih memakai paradigma lama
    Bahwa sekolah itu harus ke sekolahan, berseragam dan ujian serta berijazah….
    Padahal kesuksesan anak bisa diberbagai hal…contoh; bintang sinetron sekolahnya pun terganggu
    Tapi orang tuanya bangga sama anaknya kan? Bukan krn nilai sekolahnya?? Tapi karena profesinya kan?? Kok giliran sdh
    Sukses sekolah seolah tidak ada masalah? Saran saya kalo berkenan cobalah konsultasi dengan psikolog profesional saling membuka pikiran
    Buka hati antara anak dan orang tua mungkin akan didapat titik temu yang terang….
    Ini zaman canggih banyak jalan menuju roma… Kita saja yang kurang paham metoda2 lainnya….
    Anak kita punya bakat minat bahkan visinya sendiri…jgn bunuh kreatifitas mereka…jangan paksakan visi kita
    Buatlah hidup ini penuh warna hidup ini adalah pilihan….
    Dan apapun pilihannya sukses bisa diraih… Sukses bisa dimana saja….profesi apa saja…. Cara apa saja……
    Yang berbahaya adalah kita cuma bisa membahas persoalan yang tak ada habisnya…. Peace sahabat.

    • makasi sarannya pak.. alhamdulillah sudah mulai ada titik terang karena td suamiku langsung membahas tentang solusinya…

  3. Mungkin judulnya kalo boleh kasih saran ” selamatkan anak dari obsesi orangtua “

  4. Kita harus ingat bahwa banyak sekolah dan guru yang ilmunya dan kemampuannya tidak mengikuti perkembangan jaman. Nilai bagus tidak memberikan jaminan masa depan karena harus kita lihat dulu siapa yang memberi nilai, apa dasar penilaiannya dan apa konten dari yang dinilai tersebut.

    Anak yang berani melakukan perlawanan sebenarnya punya karakter positif yang kalau diarahkan akan sangat berguna. Semakin banyak anak yang tidak suka sekolah, belajar dianggap beban, ini mengenaskan. Sekolah dan guru harus berubah!

    • setuju mba ines… adik saya ini sekolah di SMP negeri yang katanya bertaraf internasional. tapi menggambar di saat jam pelajaran adalah tidak baik, walaupun nilai pelajarannya tidak masalah malah cenderung bagus. bingung sayah ^_*

  5. tetap semangaaattt mba mellaaaa **huuggss**

  6. Semangat mel ^_*
    *peluk cium dari jauh*

  7. Mama Mellaaaa, baru baca nih T_T

    Gimana, semoga hari ini sudah ada titik terang your smart youngsister, amin ya Allah.

  8. Setuju…
    Salam kenal

  9. salam kenal,

    setujuh buangetttt.

  10. mbak Mela, saya juga sedang kebingungan melihat prestasi anak saya karena sudah 1 tahun terakhir melorot tajam (tapi masih masuk 10 besar). Dia bilang “aku suka semua pelajaran, tp yg aku gak suka sama gurunya”. IQ nya termasuk sangat cerdas, dia suka menggambar, games dan sangat tidak suka PR.Teman saya menganjurkan untuk home schooling. Tp saya sendiri belum tahu apa itu home schooling..

    Oh ya, semoga keponakan anda mendapatkan solusi terbaik untuk masa depannya. amiin

    • halo mba nina… mari kumpul-kumpul ketemuan biar bisa sharing seru bareng keluarga HS lainnya.. :)

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge