Me Time

Beberapa minggu lalu ada pembahasan tentang “me time ” di milis sekolah rumah lalu ada juga pembahasan tentang me time di bbm grup, hubungan antara me time dan “keribetan” sebagai home educator, kapan ya ada waktu untuk punya me time? perempuan kan juga perlu” senang-senang” sendiri.. hmm yaa waktu itu saya juga ikut berfikir, kapan ya? apakah saya punya me time? atau memang saya gak butuh?, saya masih belum mengerti apa arti me time buat saya.

Pendapat tentang me time pun berbeda-beda dari para ibu-ibu di milis maupun di bbm grup. dan pembahasan bagaimana cara mewujudkan me time pun berbeda, saya hanya memantau pembahasan tersebut, karena saya masih belum mengerti me time seperti apa yang saya butuhkan. sampai akhirnya seorang sahabat mengajak saya buat jalan-jalan berdua saja ke singapore. hmm saya berfikir akhirnya mungkin inilah me time yang saya butuhkan. jalan tanpa anak-anak, belanja, bersenang-senang hanya dengan sahabat yang memang sehati dengan saya.

Sampai akhirnya tiba hari jum’at lalu kami berangkat dari Jakarta menuju Changi Airport, sampai disana kami di jemput sepupu saya, hari pertama kami jalan-jalan ke esplanade, merlion park. ramai sekali karena sedang chinese new year. ada banyak lampion, dancing lion dll. hmm inilah saatnya “me time” dalam pikiran saya begitu. tetapi kok ada yang hilang ya di hati yang terdalam? bukankah ini me time? just me, bersenang-senang, belanja tanpa anak-anak.

Hari kedua di mulailah petualangan kami berdua, dasarnya kami sering jalan-jalan berdua jadi enjoy saja tanpa ada tour guide. hmm hati sih senang tapi kok tetep ada yang hilang yah? inikan “me time”, saya bebas tidak mengurusi urusan rumah tangga, tidak mencuci, tidak menyeterika, tidak menemani duo ali belajar. suami saya yang baik hati merestui kepergian saya untuk liburan ini, beliau slalu meyakinkan bahwa anak-anak dalam keadaan baik dan enjoy, karena suami saya juga sengaja cuti untuk menjaga anak-anak. tapi kok saya malah pengen me timenya berakhir ya..

malam harinya saya dan sahabat ngobrol-ngobrol, ternyata perasaan kami sama. hehe mau sok-sok an jalan-jalan tanpa anak-anak tapi pikirannya ke anak-anak terus. enjoy sih tapi hampa jauh dari anak-anak. sebelumnya saya pikir me time adalah harus benar-benar beraktifitas sendiri tanpa anak-anak tetapiii… bbm disamping anak-anak yang lagi mengerjakan ixl math, atau membuat lapbook bersama sudah termasuk dalam me time saya. bahkan posting web homeschooling inipun sudah me time yang sangat berharga buat saya, jadi kalau ada yang tanya kapan me time saya sebagai home educator? jawaban saya adalah me = duo ali, jadi me time = duo ali time *loh kok? hehehe tetapi walau begitu, perjalanan kemarin juga sangat menyenangkan buat saya, petualangan seru tanpa tour guide, nyasar di negara orang, tanya map sana-sini, dan belajar tentang pendidikan anak-anak di sana ( topik ini akan saya bahas di posting selanjutnya). hanya memang paradigma saya tentang me time berubah total. hanya setiap individu yang bisa menentukan tentang me time mereka sendiri ^_^

Me time untuk saya rumusnya adalah ya itu tadi Me = Duo Ali jadi Me Time = Duo Ali time ^_*

@Universal Studio

*thx bunbun for unforgetable trip :*

Comments

  1. Waduh…jadi kebanyang bakalan nelangsa ni Jumat-Minggu ini :(

  2. Setuju mba… walau bisa tenang melakukan sesuatu tanpa anak2, tp ada sesuatu yg hilang. Me time bagi aku, adalah sebentar santai sambil melihat mereka (anak2) beraktivitas

  3. 😉
    menulis tentang Homeschooling, sudah termasuk me-time … so do i ! 😀

  4. Dear Mba Mella (bener gak ya begitu panggilannya),Salam kenal.

    Saya terkesan membaca tulisan anda tentanh homescholling, karena sebenernya saya sedang sangat butuh informasi mengenai hal tersebut. Saya ibu yang bekerja tetapi dalam waktu dekat ini memutuskan untuk mengudurkan diri dari pekerjaan saya agar dapat mendidik putri sulung saya sendiri (home schooling) karena keterbatasannya yang tidak dapat menggikuti pendidikan pada sekolah formal. Yang ingin saya tanyakan adalah : Apakah home schooling untuk putri saya yang sudah berumur 19 th sudah terlambat? atau belum ? jika belum tolong pencerahannya mba, langkah2 apa yang harus saya lakukan. (sebelumnya anak saya sudah menggikuti program D3 bahasa Inggris pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta TImur) saya berharap dia bisa menggikuti, tetapi ternyata hasil Ipknya hanya 1,8 saja dan dia mengatakan bahwa dia tidak dapat menggikuti pelajaran2 tersebut. Hal ini lah yang membuat saya berpikir untuk berhenti bekerja dan menjadi penolong buat anak saya.
    Mohon pencerahan mba, Terima kasih.

    • dear mbak uli…
      senangnya berkenalan dengan ibu hebat spt mba uli, sebenarnya saya juga masih banyak belajar tentang homeschooling, untuk proses belajar menurut pendapat saya sebenarnya tidak ada kata terlambat bu, berhubung anak ibu sudah masa kuliah jadi mungkin lebih baik memfokuskan dia dengan bidang atau minat yang disukainya. sebenarnya banyak anak-anak hs yang usianya sudah lebih besar bu, ibu bisa follow @moikusman di twitter beliau memiliki anak usia kuliah juga. oya kami juga memiliki klub bersama yang jadi ajang kumpul-kumpul namanya klub oase mungkin kalau ada waktu ibu bisa datang berkumpul dan sharing bersama. infonya bisa di cek di http://www.KlubOase.com maaf kalau belum ada jawaban yang memuaskan.. salam buat keluarga tercinta ^_^

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge