Selalu Ada Cara Untuk Belajar

Salahsatu tantangan yang harus dihadapi dalam keputusan untuk menerapkan homeschooling / home education adalah pendapat keluarga besar. alhamdulillah selama ini keluarga besar kami menghormati keputusan yang kami ambil ini, walau awalnya pasti ada keraguan, dan pertentangan tetapi seiring berjalannya waktu keraguan-keraguan itu mulai terkikis, tetapi beberapa hari kemarin Ibuku memanggilku untuk membicarakan masalah homeschooling duo ali secara serius. ada apakah gerangan ? ada sesuatu yang mengganggukah bagi orangtuaku ?.

Akhirnya kemarin kami menginap di rumah ibuku karena kebetulan papa faizal juga lagi mengajar ke luar kota. setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya sampailah pada point utama yaitu keresahan yang sedang dirasakan ibuku. Ibuku resah karena kalau pagi hari Husayn seperti bingung karena tidak punya teman sebaya, semua tetangga sekolah, lalu Husayn hanya bersamaku dan adiknya saja di rumah. padahal mungkin Husayn mau main sama teman-temannya. lalu apa yang sudah dipelajari Husayn ? aku bilang pada ibuku, tak seharian anak-anak harus bermain dengan teman sebaya kan? alhamdulillah duo ali sangat tidak bermasalah dalam sosialisasi, kebetulan kami juga bukan tinggal di kompleks perumahan yang dari satu rumah ke rumah lain berjauhan, rumahku dengan rumah ibuku berdekatan, hanya rumahku di pinggir jalan agak besar sedangkan ibuku tinggal di peninggalan rumah nenek di dalam gang yang sangat ramai dengan anak-anak dan tak takut kendaraan lewat. jadi kami punya dua pilihan suasana, kalau ingin sedikit menyepi kami bermain di rumah sendiri tapi kalau mau main dengan teman sebaya husayn main ke rumah neneknya, sepulang teman-temannya sekolah husayn bisa main bersama mereka, aku lihat mereka biasa bermain petak umpet, congklak, atau hanya berlari-lari. jadi sebenarnya tidak ada masalah tentang itu.

husayn dan aqeela homeschooler

husayn dan aqeela

Saat menjawab pertanyaan kedua, hmm aku sempat berfikir juga, Husayn belajar apa ya? sudah bisa apa ya? waduh Husayn memang baru bisa membaca sedikit-sedikit, paradigma sekolah sudah luntur dalam pikiranku dan faizal maka kalau “pelajaran” yang dimaksud ibuku adalah pelajaran formal sekolah, sepertinya kami tidak melakukannya, karena aku memang tidak menggunakan kurikulum diknas, atau belum mungkin, kami unschooler, tidak ada metode khusus, kurikulum khusus, dan pakem-pakem tertentu. kami berhomeschooling karena ingin membangun skill matang, tanpa keseragaman, lalu bonding together tanpa harus memikirkan jumlah nilai (dalam arti sebenarnya ) yang harus dipersembahkan. prinsip kami adalah “melakukan yang terbaik”. akhirnya aku bilang pada ibuku kalau aku akan mengecek “Husayn sudah bisa apa saja ?”.

Sampai di rumah, aku mulai mengajak Husayn berdiskusi, kami ngobrol sambil peluk-pelukan, bercanda dan tebak-tebakan, saatnya aku bilang Husayn kira-kira kelas berapa ya ? Husayn hanya tersenyum, dia bilang kalau sekolah mungkin Husayn baru TK karena husayn gak bisa pelajaran anak SD.. hehe gak pede ternyata dia. aku kemudian menyuruh Husayn untuk meminjam buku pelajaran kelas 1 sepupunya yang tinggal di sebelah rumah kami, dengan malu-malu Husayn bilang “aaahh Husayn gak bisa mah, kan husayn gak sekolah ?” akhirnya sambil senyum Husayn berlari untuk meminjam buku. aku kemudian mengecek apa isi bukunya ? kami meminjam 2 buku yaitu pelajaran sains dan matematika, “duh pasti susah ma” kata Husayn, lalu aku mulai membacakan isi buku tersebut. tanpa diduga karena aku juga belum pernah membaca bukunya aku kaget dengan isinya, inikah buku yang membuat sepupuku di marahi setiap malam? “Hanya ini ?”, bukannya sombong, aku memang terkejut, karena isinya hanya tentang kehidupan sehari-hari.

Dimulai dengan pelajaran sains, bab pertama tentang Fungsi bagian tubuh, aku tanyakan semua pada Husayn ya dia pasti bisa, lalu tentang kebersihan lingkungan, yaa tentu saja Husayn juga bisa karena kami para homeschooler biasanya sangat concern masalah lingkungan hidup, selanjutnya adalah tentang kondisi rumah yang baik, ada sedikit cerita lucu ketika membahas tentang bab ini. ada sebuah gambar rumah lalu ada pertanyaan ” apa yang kurang dari kondisi rumah tersebut ? ” (jawabannya adalah tak ada jendelanya ) tetapi Husayn lain menjawabnya. Husayn bilang “rumah itu pintunya kurang besar, lalu mataharinya kurang masuk harusnya ada bagian atap yang bisa dibuka dan ditutup agar matahari bisa masuk kalau siang hari tetapi kalau malam bisa ditutup agar tak kedinginan.” aku bilang “loh inikan kurang jendela bang.” lalu Husayn menjawab ” Husayn suka bentuk rumahnya, kan itu sebenarnya ada jendelanya ma, tapi di belakang, jadi gak kelihatan di gambar.” wow… spechless.. kalau aku tanya kepada teman-teman yang membaca cerita ini, apakah ada yang salah di jawaban Husayn ?. hehe kalau jawabannya pilihan ganda mungkin Husayn akan bingung menjawabnya dan jadi salah menjawab. jawaban Husayn barusan membuatku tersadar kalau kami memang tepat memilih homeschooling / home education. aku tak mau kreatifitasnya terhambat karena soal pilihan ganda, atau karena banyak hafalan wajib.

Berlanjut ke pelajaran matematika pun begitu, isinya pertambahan dan pengurangan, pengetahuan tentang jam, tentang hari ( kemarin, besok, lusa ). setelah selesai pembahasan dua buku selama setengah jam, yaa dua buku hanya setengah jam dan Husayn bisa menjawab hampir semua pertanyaan. ini bukan Husayn yang kepinteran tapi memang materi tersebut adalah materi sehari-hari dan kami melakukannya dengan senang hati, juga semua anak seumur Husayn pasti bisa menjawab jika tanpa tekanan. Husayn bilang padaku ” kenapa kalau pelajarannaya gampang begini tiap malam si dia selalu dimarahi ya ma, Husayn jadi bingung.” aku hanya tersenyum menjawab pernyataan husayn. kadang kita mungkin mengabaikan hati para anak-anak hanya demi hal-hal yang tidak penting. wajar kalau si anak tak bisa menjawab karena kondisi mereka berbeda, fokusnya berbeda, aku yakin bila kita bertanya dengan penuh cinta, sambil berpelukan tanpa ada target nilai maka semua menjadi indah dan membuat pikiran terbuka sehingga mereka bisa menjawabnya. yang kita perlukan dalam hidup kita apa nak ?, tanyaku kepada Husayn. yang di perlukan adalah bermanfaat untuk orang banyak, berbagi dan melakukan yang terbaik. tak perlu pikirkan nilai, kalau kita melakukan yang terbaik inshaallah nilai baik menyusul. :) “jadi Husayn sekarang kelas dua dong ma, kan Husayn udah bisa satu buku pelajaran kelas satu ?.” soraknya sambil berlari meninggalkanku untuk mengembalikan buku.

salam cinta,

mella ( yang sedang berbahagia karena memiliki banyak cinta )

 

Comments

  1. Salam kenal mbak. Mau nanya nih mba, apa mba Mela punya info tentang bagaimana menjalankan HS untuk anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)? Terimakasih sebelumnya.

    • salam kenal mbak.. :)
      beberapa teman husayn ada yg ADHD, tp saya blm tanya lebih lanjut bagaimana mereka menjalankan HS, nanti sy coba tanyakan ya mbak :)

Trackbacks

  1. […] Ada juga mbak Mella yang berbagi kisah bagaimana Husayn yang tadinya selalu menganggap dirinya TK (karena tidak pernah pegang buku pelajaran SD) kini kalau ditanya dengan percaya diri menyebutkan sebagai anak kelas 2 SD karena berhasil melewati buku kelas 1 SD dengan mudah. Kisah tentang Husayn bisa dibaca di sini. […]

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge