Jumlah Bukan Ukuran Kebenaran

“Mamaaa… siapa tuh nama anak yang ngumpetin sandal di film hafalan shalat delisa ?, siapa ya hmm duh Husayn lupa nih.” Beberapa menit kemudian “yhaaa husayn inget, umar namanya umar”. Tak lama kemudian aku dan ali menjawab hampir bersamaan “umam bang bukan umar”, lalu ali juga menimpali “iya baang umam namanya, umam”. Lalu papa Faizal ikutan nyambung, “mama dan ali bilang namanya umam, siapa yang terbanyak biasanya yang benar”, tetapi kemudian papa faizal meralatnya “eh yang paling banyak belum tentu yang paling benar kok bang, kita juga harus mengeceknya, mempelajarinya agar benar-benar terbukti yang mana yang benar”. Dan obrolanpun berganti topik menjadi pembahasan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan bijak, untuk terus belajar dan kritis dalam setiap situasi.

Menurut kami isu mayoritas dan minoritas menjadi sangat penting untuk dibahas, selama ini sepertinya kita digiring kepada opini bahwa yang mayoritas adalah yang paling benar, karena didukung oleh banyak orang, sehingga minoritas dianggap sebagai kelompok “pemberontak” yang tak patuh kepada suara terbanyak. Aku menyadari bahwa memang benar suara terbanyak kadang dianggap pemenang tetapi sesungguhnya tak selamanya hukum itu berlaku.

Bersikap kritis adalah salahsatu sikap yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri anak-anak, kami menyampaikan kepada Duo Ali bahwa menjadi berbeda bukanlah aib, menjadi berbeda dengan ilmu adalah sikap ksatria, dan menghargai setiap pilihan orang lain adalah wajib. Kita harus memperjuangkan kebenaran walau jumlah kita hanya sedikit bahkan sendiri, dan satu-satunya “teman” dalam mencari kebenaran adalah Belajar, ya BELAJAR…

Di akhir obrolan panjang lebar tentang memperjuangkan kebenaran di tengah keluarga kecil kami ini, Ali berbisik di telingaku “mah, jadi sampai kapan kita harus belajar ?”, sambil mencium bibir mungilnya akupun tersenyum menjawab “sampai mati nak, sampai akhir hayat, sampai kita menutup mata untuk selamanya.” Sambil memperlihatkan gigi ompongnya Ali kecilku menimpali “Ali sayang mama sampai selamanya, selama-lamanya” *nyessss hatiku kok jadi adem banget ya.

Selamat belajar dalam kebahagiaan Ya nak, Iqro.. iqro.. Iqro.. *shalawat

IMG_2534-0.JPG

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge